Hukum Bacaan Lafadz Allah dan Makna NamaNya
Segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam dan selamanya kita harus bersyukur kepada-Nya yang telah menciptakan alam jagad raya beserta isinya termasuk kita di dalamnya.
Apa yang akan saya sampaikan di artikel ini berdasarkan penjelasan ulama, terutama keterangan imam Ghazali rahimahullahu ta'ala sebagai sumber rujukan di dalam memaknai lafadz Allah di artikel ini yang dikutip dari kitab Al Maqshadul Asna.
Lafadz Allah
Lafadz Allah terdiri dari empat huruf yaitu alif, lam, lam dan ha. Di dalamnya ada lam jalalah dan hukum mad yang panjangnya 2 bisa juga 6 harokat.
Kebanyakan hukum mad pada lafadz Allah di dalam Al Qur-an dibaca dua harokat saja, namun dalam praktek dzikir tertentu hukum mad pada lafadz Allah dibaca 6 harokat seperti lafadz لٓا اله إلّا اللّٰه di akhir dzikir yang ditancapkan ke qolbu.
Lam Jalalah
Lam Jalalah yang Dibaca Tafhim
Lam Jalalah yang Dibaca Tarqiq
Cara Mengucapkan Lafadz Allah yang Benar
Mengucap lafadz Allah hanya menggerakan lidah saja tanpa menggerakan kedua bibir, sehinga bukan dibaca Alah, Aloh ataupun Awloh. Karena huruf lam dibaca tebal, sehingga harokat fatah terdengar seperti huruf "o".
Mengenal Allah
Lalu bagaimana cara agar kita bisa mengenal Allah?
Untuk mengenal Allah ulama memberikan metode, dan dari berbagai metode semuanya memiliki kesamaan pendekatan didalam mengenal Allah yaitu dengan mentafakuri asma, sifat dan af'al Allah.
Sebelum kita melangkah pada pembahasan makna lafadz Allah, alangkah baiknya kita memahami terlebih dahulu alasan kenapa sih kita harus mengenal Allah, dan dengan cara seperti apa kita bisa mengenal Allah?
Berikut ini klasifikasi ma'rifat agar kita faham betapa mengenal Allah itu harus agar tumbuh rasa takjub, rasa syukur dan rasa cinta kita kepada Allah sehingga kita selalu mengingat Allah.
Klasifikasi Ma'rifat
Ma'rifat itu mengenal, maka di dalam hal ma'rifat, manusia terbagi tiga kelompok:
1. Manusia Tanpa Akal
Manusia-manusia seperti ini mereka hanya kenal kepada makhluq, tidak mengenal pencipta dan pemilik semua makhluq. Seperti kambing yang tidak mengenal pencipta dan pemiliknya, yang dia kenal adalah orang-orang yang memberinya makan karena kambing tidak memiliki akal.
Manusia yang tidak punya akal ini tidak memiliki keinginan untuk mengenal Allah. Keinginannya hanya agar dapat perhatian dan dekat dengan makhluq. Sekalipun dia beribadah, manusia seperti ini hanya ingin dilihat dan dipuji oleh makhluq.
2. Manusia Berakal Tapi Akalnya Sakit
Manusia-manusia seperti ini, dia sangat ingin mendapat ni'mat dari Allah, ingin masuk surganya Allah, tapi tidak memiliki hasrat untuk mengenal Allah.
Orang seperti ini kalaupun dia beridah dia hanya menuntut apa yang dia inginkan kepada Allah, tujuan dia beribadah hanya untuk kepentingan dirinya saja agar terpenuhi semua keinginannya.
Seandainya mereka ini masuk surga, maka yang mereka dapat hanya kesenangan dzhohir saja tanpa pernah merasakan keni'matan batin, sebagaimana kita ketahui bahwa hal yang paling ni'mat bagi para penghuni surga yaitu ketika mereka bisa bertemu dengan Allah, namun perlu diingat bukan berarti Allah menempati surga karena Allah bukan makhluq yang butuh kepada tempat.
3. Manusia yang Memiliki Akal yang Selamat
Manusia-manusia yang masuk kedalam kelompok yang memiliki akal yang selamat ini adalah orang yang sangat ingin mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ketika mereka mendapatkan ni'mat, mereka ini tak hanya mengetahui yang mengantarkan kenikmatan yang sampai kepada mereka, tapi mereka juga mengingat kepada yang memberi ni'mat yang sesungguhnya yaitu Allah.
Mereka ini selalu ingin mengenal Dzat yang memberi mereka keni'matan dan kebaikan-kebaikan. Mereka ini orang-orang yang sangat ingin mengenal Tuhannya dengan selalu mengingat dan mentafakuri semua ciptaanNya.
Itulah kenapa di dalam Islam bersyukur termasuk hal yang wajib karena tanpa rasa syukur manusia akan selalu merasa kekurangan dan hilang keberkahan dari rizki yang dia dapat, karena ketika seseorang bersyukur kepada Allah, maka Allah akan menambahkan ni'mat kepada orang tersebut.
Rasa syukur bagi golongan orang-orang yang berakal selamat/sehat ini akan selalu mengharapkan ridho Allah atas ibadah yang mereka kerjakan.
Rasa syukur kita kepada Allah berarti kita mengingat Allah yang telah memberikan ni'mat, sehingga kita mengenal ternyata Allah Maha Pemurah, Allah Maha Berhibah, Allah Maha Pemberi Rizki dan sebagainya.
Makna Lafadz Allah
Berikut ini adalah makna dari lafadz Allah sebagai lahan tafakur kita dalam rangka mengenal Allah, agar tumbuh keimanan di dalam hati kita, sehingga timbul rasa cinta kita kepada Allah.
Allah Adalah wujud Sejati
Sebutan Dzat bagi Allah berarti keberadaanNya, karena ketika sesuatu disebut ada maka berarti sesuatu itu memiliki Dzat, namun Dzat Allah bukanlah sesuatu, bukan seseorang juga bukan sosok, karena Allah tidak semisal dengan apapun.
Allah suci dari sangkaan fikiran manusia yang terbiasa dengan gambaran makhluq, oleh karena Allah itu tidak seperti apapun, maka syari'at mengharamkan umat muslim memikirkan Dzat Allah.
Adapun yang harus ditafakuri tentang keberadaan Allah yaitu dengan memperhatikan seluruh ciptaan-Nya bukan memikirkan Dzat-Nya.
Adanya Allah tidak bisa disangkal oleh akal karena tidak adanya Allah itu mustahil karena banyak bukti yang menunjukan keberadaannya sehingga keberadaan Allah itu wajib menurut akal, sebagai Dzat wajibul wujud yang berarti tidak adanya Allah itu tidak mungkin dan mustahil maka Allah harus ada menurut akal.
Wajib di sini bukan berarti wajib dalam hukum syari'at karena Allah tidak punya kewajiban apapun, wajib di sini adalah menurut hukum akal yang dengan daya fikirnya mentafakuri asma, sifat dan af'al Allah bahwa Allah itu harus ada karena banyak sekali yang Allah ciptakan.
Pendapat akal ini tidak bertentangan dengan syari'at karena didukung oleh dalil naqli yaitu keterangan berdasarkan firman Allah dan hadits Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam.
Lafadz Allah Mengumpulkan Sifat-sifat Ketuhanan
Sifat uluhiyah atau sifat-sifat ketuhanan adalah haq bagi Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah, jadi sifat uluhiyah sudah pasti ada pada Dzat Allah seperti haq bagi Allah disembah, dipuji, sebagai satu-satunya tempat memohon segala sesuatu dan sifat-sifatNya yang lain yang haq diagungkan oleh seluruh makhluq.
Sedangkan sifat rububiyah yaitu seperti Allah menciptakan segala sesuatu (makhluq), mengurus, memelihara, berkehendak dan berkuasa, yang tidak ada satupun makhluq yang luput dari perbuatanNya.
Allah memiliki sifat-sifat kesempurnaan yang tidak dimiliki oleh makhluq-Nya karena makhluq sebenarnya tidak benar-benar memiliki sifat kecuali anugrah dari Allah dan sifat bagi makhluq memiliki kekurangan.
Dari penjelasan di atas bahwa lafadz "Allah" dari huruf alif sampai huruf ha, jika dihilangkan satu persatu akan selalu memiliki makana yang merujuk pada satu Dzat yaitu Tuhan yang memiliki nama Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang haq disembah. Maka mafhumnya segala sesuatu bersumber dari-Nya dan kembali kepada-Nya.
Dari seluruh sifat-sifat ketuhanan yang kita ketahui ada 20 sifat yang haq bagi Allah itu terkumpul pada lafadz Allah, sehingga bagi orang-orang yang sudah mengenal Allah baik nama, sifat maupun perbuatan-Nya, ketika mengucapkan lafad "Allah" maka seluruh sifat-sifat ketuhanan terangkum dengan hanya mengucap "Allah". Sehingga dzikir mereka bukanlah dzikir yang kosong karena diisi dengan tafakur.
Wujud Allah Haqiqi
Keberadaan Allah tidak butuh permulaan karena Dia itu Qodim (dahulu), Allah tidak butuh pencipta atau sesutu karena Dialah Yang Maha Pencipta dan Maha Kaya. Allah adalah sebab adanya makhluq dan semua makhluq butuh dan sangat bergantung kepada-Nya.
Nama Allah Rajanya Asmaul Husna
Nama Allah adalah nama yang paling agung diantara 99 nama Allah Subhanahu wa Ta'ala karena menunjukkan Dzat yang mengumpulkan seluruh sifat ketuhanan.
Adapun nama-nama lain hanya menunjukkan satu sifat, seperti contohnya القادر Yang Maha Kuasa atau nama-namaNya yang lain.
Nama Allah paling banyak disebut di dalam Al Qur-an. Ulama ada yang menyebutkan bahwa nama Allah disebutkan di dalam Al Qur-an sebanyak 2360 kali.
Syekh Abu Al Abbas Al Mursyi (gurunya syekh Ibnu Athoillah As Sakandari) berkata, "jadikan lafadz Allahu Allah sebagai dzikirmu karena Allah ini rajanya Asmaul Husna."
Bagi para muridin thoriqoh dzikir Allahu Allah adalah hal yang biasa diamalkan setiap hari, bahkan bagi mereka para Auliya Allah dzikir Allahu Allah ini adalah hal yang wajib yang tidak pernah luput meski sedetikpun, karena sedetik saja mereka lupa kepada Allah adalah kerugian terbesar.
Berbeda dengan kita yang bila mengingat Allah hanya ketika dzikir, ketika sholat dan melaksanakan ibadah-ibadah yang lain, sedangkan di luar ibadah kita lupa kepada Allah. Itu wajar karena tiap-tiap orang berbeda-beda martabat keimanannya.
Penutup
Lalainya kita ketika berdzikir karena tidak disertai ilmu, maka untuk bisa dzikir berdasarkan ilmu yang didalamnya diisi dengan tafakur, maka kita harus mau belajar kepada seorang guru yang memiliki haq membimbing kita berdzikir, mau mendatangi majlis dzikir dan duduk bersama ulama yang memang memiki haq untuk mengajar agar kita mengenal Allah
Kiranya pembahasan asmaul husna saya cukupkan pada pembahasan makna "Allah" yang insya Allah akan saya post satu persatu dari 99 nama Allah di blog ini, mohon ma'af bila ada kekurangan dan kesalahan, karena yang salah itu dari diri saya pribadi dan yang benar itu hanya dari Allah. Semoga bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Hukum Bacaan Lafadz Allah dan Makna NamaNya"
Posting Komentar