Makna Lafadz Allah: Nama Teragung dalam Asmaul Husna, Hukum Bacaan, dan Keutamaannya - Gambar sampul postingan

Makna Lafadz Allah: Nama Teragung dalam Asmaul Husna, Hukum Bacaan, dan Keutamaannya

Setiap muslim pasti sering menyebut lafadz “Allah” dalam shalat, dzikir, dan percakapan sehari-hari. Namun, seberapa sering kita benar-benar memahami siapa Dzat yang kita sebut itu? 

Lafadz Allah bukan sekadar nama. Ia adalah nama teragung yang menghimpun seluruh makna ketuhanan. Memahaminya adalah pintu awal untuk mengenal 99 Asmaul Husna lainnya. 

Artikel ini akan membahas makna lafadz Allah, hukum bacaannya, keutamaan menyebutnya, dan kedudukannya sebagai pusat dari seluruh nama Allah. 

Pembahasan disusun berdasarkan keterangan Imam Al-Ghazali dalam kitab Al Maqshadul Asna agar lebih mudah dipahami. 

Ilustrasi Asmaul Husna, Makna Lafadz Allah


Mengapa Lafadz Allah Disebut Ismul A’zham? 

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa lafadz Allah adalah nama bagi Wujud Sejati. Ia menghimpun seluruh sifat uluhiyah dan rububiyah dalam satu kata. 

Perbedaannya dengan nama lain cukup jelas. Nama Ar-Rahman hanya menunjukkan sifat Maha Pemurah. Nama Al-Qadir hanya menunjukkan sifat Maha Kuasa. Sedangkan lafadz “Allah” mencakup seluruh sifat kesempurnaan sekaligus. Karena keistimewaan inilah para ulama menyebutnya Ismul A’zham, nama yang paling agung. 

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa doa yang dipanjatkan dengan menyebut Ismul A’zham lebih besar kemungkinannya untuk dikabulkan. 


Hukum Bacaan Lafadz Allah dalam Ilmu Tajwid 

Menyebut nama Allah dengan benar adalah bentuk adab kita kepada-Nya. Lafadz Allah terdiri dari empat huruf: Alif, Lam, Lam, dan Ha. Di dalamnya berlaku hukum Lam Jalalah.

Dibaca Tafhim atau Tafkhim 

Dibaca tebal apabila huruf sebelumnya berharakat fathah atau dhammah. Contoh: wa-Allahu, _Rasulullah. Cara membacanya adalah dengan menebalkan suara pada huruf lam dan mengangkat lidah ke langit-langit depan. 

Dibaca Tarqiq 

Dibaca tipis apabila huruf sebelumnya berharakat kasrah. Contoh: bismillah, lillah. Suara lam dilafalkan ringan dan tipis. 

Kesalahan yang sering terjadi adalah melafalkan “Allah” menjadi “Awloh”. Yang benar, bibir tidak perlu digerakan apalagi berlebihan. Cukup ucapkan dengan tebal dan jelas sesuai kaidah tajwid. 


Keajaiban Makna dalam Susunan Hurufnya 

Terdapat keunikan dalam susunan huruf lafadz Allah yang menunjukkan keesaan-Nya. 

  1. "Allah" → Nama Dzat yang Maha Sempurna.
  2. Hilang Alif menjadi Lillah → Milik Allah.
  3. Hilang Lam pertama menjadi "Lahu" → Kepada-Nya.
  4. Sisa huruf "Hu" → Dzat-Nya Semua perubahan ini tetap merujuk pada satu Dzat. 

Hal ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya, berada dalam kekuasaan-Nya, dan akan kembali kepada-Nya. Karena itu, dzikir “Hu Hu” yang dikenal di kalangan ulama tasawuf merupakan bentuk ringkas untuk mengingat Dzat-Nya secara langsung. 


Keutamaan Menyebut Lafadz Allah 

Menyebut nama Allah bukan sekadar gerakan lisan. Jika disertai ilmu dan hadirnya hati, dzikir ini membawa banyak keutamaan: 

  1. Menjadi sebab turunnya ketenangan. Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” [QS. Ar-Ra’d: 28] 
  2.  Menghapus dosa dan mengangkat derajat. Setiap dzikir yang ikhlas akan menghapus kesalahan kecil dan menambah timbangan amal. 
  3. Menjadi sebab dikabulkannya doa. Nama Allah adalah pintu segala doa, karena Dialah tempat bergantung seluruh makhluk. 

Namun, keutamaan ini hanya diperoleh apabila dzikir dilakukan dengan ilmu, bukan sekadar hafalan tanpa makna. 


Agar Dzikir Tidak Menjadi Kosong 

Masalah yang sering terjadi adalah lisan menyebut “Allah”, sementara hati melayang ke urusan dunia. 

Imam Al-Ghazali menekankan dua hal agar dzikir hidup: 

  1.  Ilmu: Mengetahui makna dari nama yang disebut. 
  2. Tafakur: Menghadirkan makna tersebut dalam hati saat menyebutnya. 

Contohnya, saat menyebut “Ar-Rahman”, ingatlah kasih sayang Allah yang meliputi seluruh makhluk. Saat menyebut “Al-Qahhar”, ingatlah kekuasaan-Nya yang tidak tertolak. Dengan cara ini, dzikir tidak lagi menjadi rutinitas kosong, melainkan menjadi sarana untuk mendekat kepada Allah. 


Nama Allah, Rajanya Asmaul Husna 

Nama Allah adalah nama yang paling agung di antara 99 nama Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena menunjukkan Dzat yang menghimpun seluruh sifat ketuhanan. Adapun nama-nama lain hanya menunjukkan satu sifat. Misalnya _Al-Qadir_, Yang Maha Kuasa, atau nama-nama-Nya yang lain. 

Nama Allah paling banyak disebut dalam Al-Quran. Sebagian ulama menyebutkan bahwa nama Allah disebutkan sebanyak 2.360 kali. 

Syekh Abu Al-Abbas Al-Mursyi, guru dari Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari, berkata: “Jadikan lafadz _Allahu Allah_ sebagai dzikirmu, karena Allah ini rajanya Asmaul Husna.” 

Bagi para muridin tarekat, dzikir Allahu Allah adalah amalan harian yang biasa diamalkan. Bahkan bagi para wali Allah, dzikir ini wajib dan tidak pernah luput meski sedetik. Sebab sedetik saja mereka lupa kepada Allah adalah kerugian terbesar. 

Berbeda dengan kita yang seringnya hanya mengingat Allah ketika berdzikir, shalat, dan ibadah lainnya. Di luar itu kita lupa. Itu wajar, karena setiap orang berbeda-beda martabat keimanannya. 


Dzikir yang Diisi Tafakur Butuh Ilmu 

Ketika seseorang mengenal Allah, baik nama, sifat, maupun af’al-Nya, semuanya terangkum dalam satu sebutan dzikir, yaitu menyebut nama “Allah”. 

Menyebut nama-Nya bukan berarti kita memikirkan Dzat-Nya. Seberapa keras pun akal berusaha, ia tidak akan pernah mampu membayangkan seperti apa Dzat Allah, karena Allah tidak serupa dengan sesuatu apa pun. 

Akal manusia tidak akan mampu menjangkau hadirat Allah yang Maha Agung, sebab akal terbiasa dengan gambaran makhluk. Oleh karena itu, memikirkan Dzat Allah dilarang dalam agama dan hukumnya haram. 

Melalui bimbingan ulama, kita terbantu untuk mengenal Allah melalui dzikir yang diisi tafakur terhadap asma, sifat, dan af’al-Nya. Hal ini penting karena sudah menjadi fitrah manusia butuh kepada Tuhan. Jika belum mengenal-Nya, bukan hal mustahil seseorang justru menuhankan sesuatu selain Allah. 

Dari berbagai metode dzikir yang disampaikan ulama, semuanya memiliki benang merah yang sama, yaitu merujuk kepada hati. Di sanalah letak iman dan sumber berbagai penyakit manusia. 

Sebagaimana disampaikan guru kami dalam majelis dzikir: “Dengan dzikir berarti kita waras. Sebab hati yang tidak diolah dan ditata melalui dzikir, perilakunya bisa seperti binatang.” 

Guru kami juga menerangkan bahwa lafadz Allah adalah ismu dzat, nama yang disebut dalam dzikir dan dihujamkan ke dalam hati. Dengan demikian, hati yang keras perlahan menjadi lembut dan mudah menerima nasihat kebenaran serta hidayah. 

Dalam ajaran tarekat Qadiriyah, misalnya, ketika membaca “La ilaha illallah”, lafadz Allah disebutkan dengan dihujamkan ke hati. Karena itu, tidak heran jika dzikir mereka terdengar keras. 

Sikap seperti itu bukan tanpa tujuan. Itulah riyadhah yang dilakukan agar hati terbiasa berdzikir ismu dzat tanpa harus diucapkan. Setiap tarikan dan hembusan napas diisi dzikir yang ditimpakan ke hati dengan metode dzikir khofi. 

Berarti benar apa yang disampaikan Imam Al-Ghazali. Ilmu itu penting, karena amalan dzikir yang diisi tafakur membutuhkan ilmu yang disampaikan langsung oleh seorang guru ruhaniyah atau mursyid, yang sanadnya bersambung kepada Rasulullah ﷺ. 

Oleh karena itu, di artikel ini kami kembali menekankan pentingnya menghadiri majelis ilmu dan majelis dzikir. Agar setiap amal yang kita kerjakan, termasuk dzikir, disertai ilmu. 


Tiga Golongan Manusia dalam Mengenal Allah 

Para ulama membagi manusia menjadi tiga golongan dalam mengenal Allah: 

  1.  Orang yang tidak mengenal Allah sama sekali. Ia hanya mengenal makhluk dan dunia, sehingga ibadahnya dilakukan agar dipuji manusia. Manusia yang berada di golongan ini diibaratkan kambing yang hanya kenal kepada yang memberinya makan.
  2. Orang yang mengenal Allah tetapi hanya untuk kepentingan diri. Ia beribadah agar keinginannya terkabul, bukan karena cinta kepada Allah. 
  3. Orang yang mengenal Allah dengan hati yang selamat. Ia beribadah karena rindu untuk dekat dengan-Nya. Bagi mereka, nikmat terbesar di surga adalah bertemu Allah. Namun, perlu difahami bahwa bukan berarti Allah bertempat di surga, karena Allah bukan makhluk yang butuh tempat.

Semoga kita termasuk golongan ketiga yang selalu rindu untuk mengenal dan mendekat kepada-Nya. 


Daftar 99 Asmaul Husna Lengkap 

Untuk memahami sifat Allah lebih lengkap, anda bisa membaca penjelasan 99 nama-Nya satu per satu, urutan berdasarkan penjelasan Imam Al-Ghazali di dalam kitab Al-Maqshadul Asna. 

Jadi, nanti di artikel blog ini tidak ada judul khusus yang membahas tentang penjelasan Al-Ahad karena penjelasan tentang nama Al-Wahid oleh Imam Al-Ghazali sudah sangat lengkap.

Silahkan klik nama-nama-Nya di kolom aksara Latin untuk melihat artikel lengkapnya.

No. Arab Latin Arti
1اَللّٰهُAllahNama bagi wujud sejati
2الرَّحْمَٰنُAr-RahmanYang Maha Pengasih
3الرَّحِيمُAr-RahimYang Maha Penyayang
4الْمَلِكُAl-MalikYang Maha Merajai
5الْقُدُّوسُAl-QuddusYang Maha Suci
6السَّلَامُAs-SalamYang Maha Memberi Kesejahteraan
7الْمُؤْمِنُAl-Mu’minYang Maha Memberi Keamanan
8الْمُهَيْمِنُAl-MuhaiminYang Maha Memelihara
9الْعَزِيزُAl-AzizYang Maha Perkasa
10الْجَبَّارُAl-JabbarYang Maha Kuasa
11الْمُتَكَبِّرُAl-MutakabbirYang Maha Megah
12الْخَالِقُAl-KhaliqYang Maha Pencipta
13الْبَارِئُAl-Bari’Yang Maha Melepaskan
14الْمُصَوِّرُAl-MusawwirYang Maha Membentuk Rupa
15الْغَفَّارُAl-GhaffarYang Maha Pengampun
16الْقَهَّارُAl-QahharYang Maha Menaklukkan
17الْوَهَّابُAl-WahhabYang Maha Pemberi Karunia
18الرَّزَّاقُAr-RazzaqYang Maha Pemberi Rezeki
19الْفَتَّاحُAl-FattahYang Maha Pembuka Rahmat
20الْعَلِيمُAl-AlimYang Maha Mengetahui
21الْقَابِضُAl-QabidYang Maha Menyempitkan
22الْبَاسِطُAl-BasitYang Maha Melapangkan
23الْخَافِضُAl-KhafidYang Maha Merendahkan
24الرَّافِعُAr-Rafi’Yang Maha Meninggikan
25الْمُعِزُّAl-Mu’izzYang Maha Memuliakan
26الْمُذِلُّAl-MuzillYang Maha Menghinakan
27السَّمِيعُAs-Sami’Yang Maha Mendengar
28الْبَصِيرُAl-BasirYang Maha Melihat
29الْحَكَمُAl-HakamYang Maha Menetapkan
30الْعَدْلُAl-AdlYang Maha Adil
31اللَّطِيفُAl-LatifYang Maha Lembut
32الْخَبِيرُAl-KhabirYang Maha Mengetahui
33الْحَلِيمُAl-HalimYang Maha Penyantun
34الْعَظِيمُAl-AzimYang Maha Agung
35الْغَفُورُAl-GhafurYang Maha Pengampun
36الشَّكُورُAsy-SyakurYang Maha Pembalas Budi
37الْعَلِيُّAl-AliyyYang Maha Tinggi
38الْكَبِيرُAl-KabirYang Maha Besar
39الْحَفِيظُAl-HafizYang Maha Memelihara
40الْمُقِيتُAl-MuqitYang Maha Pemberi Kecukupan
41الْحَسِيبُAl-HasibYang Maha Membuat Perhitungan
42الْجَلِيلُAl-JalilYang Maha Luhur
43الْكَرِيمُAl-KarimYang Maha Pemurah
44الرَّقِيبُAr-RaqibYang Maha Mengawasi
45الْمُجِيبُAl-MujibYang Maha Mengabulkan
46الْوَاسِعُAl-Wasi’Yang Maha Luas
47الْحَكِيمُAl-HakimYang Maha Bijaksana
48الْوَدُودُAl-WadudYang Maha Mengasihi
49الْمَجِيدُAl-MajidYang Maha Mulia
50الْبَاعِثُAl-Ba’ithYang Maha Membangkitkan
51الشَّهِيدُAsy-SyahidYang Maha Menyaksikan
52الْحَقُّAl-HaqqYang Maha Benar
53الْوَكِيلُAl-WakilYang Maha Memelihara
54الْقَوِيُّAl-QawiyyYang Maha Kuat
55الْمَتِينُAl-MatinYang Maha Kokoh
56الْوَلِيُّAl-WaliyyYang Maha Melindungi
57الْحَمِيدُAl-HamidYang Maha Terpuji
58الْمُحْصِيAl-MuhsiYang Maha Menghitung
59الْمُبْدِئُAl-Mubdi’Yang Maha Memulai
60الْمُعِيدُAl-Mu’idYang Maha Mengembalikan
61الْمُحْيِيAl-MuhyiYang Maha Menghidupkan
62الْمُمِيتُAl-MumitYang Maha Mematikan
63الْحَيُّAl-HayyYang Maha Hidup
64الْقَيُّومُAl-QayyumYang Maha Berdiri Sendiri
65الْوَاجِدُAl-WajidYang Maha Penemu
66الْمَاجِدُAl-MajidYang Maha Mulia
67الْوَاحِدُAl-WahidYang Maha Esa
68الصَّمَدُAs-SamadYang Maha Dibutuhkan
69الْقَادِرُAl-QadirYang Maha Berkuasa
70الْمُقْتَدِرُAl-MuqtadirYang Maha Berkuasa
71الْمُقَدِّمُAl-MuqaddimYang Maha Mendahulukan
72الْمُؤَخِّرُAl-Mu’akhkhirYang Maha Mengakhirkan
73الْأَوَّلُAl-AwwalYang Maha Awal
74الْآخِرُAl-AkhirYang Maha Akhir
75الظَّاهِرُAz-ZahirYang Maha Nyata
76الْبَاطِنُAl-BatinYang Maha Tersembunyi
77الْوَالِيAl-WaliYang Maha Memerintah
78الْمُتَعَالِيAl-Muta’aliYang Maha Tinggi
79الْبَرُّAl-BarrYang Maha Dermawan
80التَّوَّابُAt-TawwabYang Maha Penerima Taubat
81الْمُنْتَقِمُAl-MuntaqimYang Maha Penyiksa
82الْعَفُوُّAl-AfuwwYang Maha Pemaaf
83الرَّؤُوفُAr-Ra’ufYang Maha Pengasih
84مَالِكُ الْمُلْكِMalikul MulkYang Maha Memiliki Kerajaan
85ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِDzul Jalali wal IkramYang Maha Memiliki Kebesaran dan Kemuliaan
86الْمُقْسِطُAl-MuqsitYang Maha Pemberi Keadilan
87الْجَامِعُAl-Jami’Yang Maha Mengumpulkan
88الْغَنِيُّAl-GhaniyyYang Maha Kaya
89الْمُغْنِيAl-MughniYang Maha Pemberi Kekayaan
90الْمَانِعُAl-Mani’Yang Maha Mencegah
91الضَّارُّAd-DarrYang Maha Mendatangkan Mudharat
92النَّافِعُAn-Nafi’Yang Maha Memberi Manfaat
93النُّورُAn-NurYang Maha Bercahaya
94الْهَادِيAl-HadiYang Maha Pemberi Petunjuk
95الْبَدِيعُAl-Badi’Yang Maha Pencipta yang Tiada Bandingnya
96الْبَاقِيAl-BaqiYang Maha Kekal
97الْوَارِثُAl-WarithYang Maha Pewaris
98الرَّشِيدُAr-RashidYang Maha Pandai
99الصَّبُورُAs-SaburYang Maha Sabar


Penutup 

Memahami makna lafadz Allah adalah langkah awal untuk mengenal Allah melalui nama-nama-Nya. 

Ketika lisan mengucapkan “Allah”, hendaknya hati juga mengingat keagungan, kasih sayang, dan kekuasaan-Nya. 

Semoga pembahasan ini membuat dzikir kita lebih hidup dan ibadah kita lebih khusyuk. InsyaAllah, pada artikel berikutnya kita akan membahas Ar-Rahman, nama Allah yang menunjukkan kasih sayang-Nya yang meliputi seluruh makhluk.

Share

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel