Makna Al Qobidh dan Al Basith: Af'al Allah yang Meliputi Kehidupan Kita Sehari-hari
مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗۤ اَضْعَا فًا کَثِيْرَةً ۗ وَا للّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ ۖ وَ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ
Nama Allah Al Qobidh dan Al Basith adalah dua nama yang tak terpisahkan karena dua-duanya memiliki keterkaitan, yang dengan nama ini maka pantas bagi Allah Maha Kuasa dan Maha Berkehendak.
Apa sih kaitan antara nama Al-Qobidh dan Al-Basith, dan seperti apa orang yang benar-benar mengenal dan beriman kepada Al-Qobidh dan Al-Basith?
Simak penjelasan berikut ini.
Pengertian dan Makna Al Qobidh dan Al Basith
Al Qobidh bisa diartikan Maha Menahan/Mengambil, bisa juga Maha Menggenggam atau Maha Menyempitkan sedangkan Al Basith artinya Maha Melapangkan/Memberikan.
Adapun makna Al Qobidh dan Al Basit kata imam Ghazali adalah sebagai berikut:
Dia (Allah) yang mengambil ruh dari tubuh manusia ketika wafat, sedangkan Al Basith maknanya adalah Dia (Allah) yang memberi ruh ke dalam jasad manusia ketika dihidupkan.
Kemudian imam Ghazali juga berkata, bahwa Al Qobidh bisa dimaknai Dia (Allah) yang mengambil shadaqoh-shadaqoh atau zakat dari orang kaya, sedangkan Al Basith adalah Dia (Allah) yang memberikan zakat tersebut kepada orang-orang dhuafa.
Al Basith itu Dia yang melapangkan rizki kepada si kaya sampai tidak ada lagi kebutuhan dan Al Qobidh Dia (Allah) menahannya dari si miskin, sampai tidak ada lagi kekuatan yang tersisa.
Al Basith itu Dia (Allah) yang menggenggam (menahan) hati dan membatasinya dengan apa yang disingkapkan kepadanya berupa sedikit perhatianNya, keluhuranNya, dan kegagahanNya.
Dia juga yang melapangkan hati manusia dengan apa yang disediakan bagi hati berupa kebaikanNya, kelembutanNya dan keindahanNya.
Allah Menyempitkan dan Melapangkan Rizki
Dengan Allah menyempitkan rizki kepada seseorang, membuktikan bahwa rizki itu mutlak dari Allah, karena sekuat apapun kita berusaha akan sia-sia saja akhirnya kecuali bagi orang-orang yang berserah diri (tawakal) di dalam ikhtiarnya.
Begitupun ketika Allah melapangkan rizkiNya kepada seorang hamba, maka tidak ada sesuatupun yang bisa menahannya, rizki itu datang dari arah yang tidak kita duga-duga, maka kepadaNya lah kita memohon dan berharap yang disertai rasa takut.
Allah Menyempitkan dan Melapangkan Hati Manusia
Ketika manusia ditimpa suatu musibah, maka yang dirasakan adalah sempitnya hati, merasa dirinya tidak berdaya, sebenarnya saat itulah Allah Al Qobidh sedang menyempitkan hati hambaNya sebagai ujian atau teguran agar menyadari kepada siapa ia memohon pertolongan.
Begitu juga ketika manusia mendapatkan jalan keluar atau mengambil hikmah dari kesulitan yang ia lalui, mendapatkan kemudahan dan kebahagiaan, sebenarnya saat itulah Allah Al Basith melapangkan hati hambaNya agar ia bersyukur.
Perasaan takut kita kepada murkanya Allah, merasa sempitnya hati karena suatu masalah, merasa resah dan gelisahnya hati adalah karena af'al Allah Al Qobidh yang menyempitkan hati kita, begitu juga ketika kita merasa bahagia, tentram dan damai atas anugerah yang Allah berikan adalah karena af'al Allah Al Basith yang melapangkan hati kita.
Al Qobidh dan Al Basith adalah nama bagi Allah yang menampakan kuasa dan kehendakNya kepada manusia yang sebenarnya bisa kita jumpai/dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, yang bila saja kita sadari dan beriman kepadaNya bisa menepis keputus asaan dan keluhan, sehingga tergantikan oleh rasa syukur.
Fadhilah Mengenal dan Beriman Kepada Al Qobidh dan Al Basith
Bagi seseorang yang mengenal dan beriman kepada Allah Al Qobidh dan Al Basith, maka pada diri orang tersebut akan memiliki sikap dan fadhilah sebagai berikut:
- Perasaan takut dan berharapnya dia kepada Allah akan senantiasa hadir bersamaan, tidak meninggalkan salah satu diantara keduanya. Jadi, ketika dia takut maka dia berharap kepada Allah, dan ketika dia berharap kepada Allah, maka disertai perasaan takut kepada Allah, "Ajrih" kalau kata guru kami (bahasa Sunda yang artinya rasa takut karena ingin dicintai dengan berusaha mendekatinya dengan sikap yang sebaik-baiknya bukan malah menjauhinya).
- Dalam pergaulannya dengan manusia terkadang dia menutup hatinya tapi terkadang membuka hatinya. Seperti tidak membuka/melapangkan hatinya ketika berhadapan dengan maksiat/orang-orang ahli maksiat, namun dia juga tidak menyempitkan hatinya (tertutup atau acuh) terhadap potensi yang bisa mendatangkan mudharat bagi dirinya dan bagi orang banyak, seperti berhubungan baik dengan tetangga atau mau mendengarkan pendapat oranglain.
- Dia menyenangkan hati manusia dengan memberi contoh kebaikan-kebaikan yang telah Allah berikan sebagai motivasi untuk meningkatkan ibadah, tapi dia juga memperingatkan manusia untuk takut kepada Allah Yang Maha Menyiksa agar menjauhi maksiat.
Penutup
Semoga bermanfaat.
.png)
Belum ada Komentar untuk "Makna Al Qobidh dan Al Basith: Af'al Allah yang Meliputi Kehidupan Kita Sehari-hari"
Posting Komentar