Makna Al-Qobidh dan Al-Basith: Dua Nama Allah yang Berlawanan namun Saling Melengkapi - Gambar sampul postingan

Makna Al-Qobidh dan Al-Basith: Dua Nama Allah yang Berlawanan namun Saling Melengkapi


Nama Al-Qobidh berada di urutan ke-21 sedangkan Al-Basith di urutan ke-22 dalam deretan Asmaul Husna. Kedua nama agung ini hadir berurutan bukan tanpa alasan, melainkan karena keduanya memiliki hubungan yang sangat erat, ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. 

Melalui pemahaman tentang Al-Qobidh dan Al-Basith, kita dapat melihat dengan jelas keagungan Allah yang Maha Kuasa dan Maha Berkehendak mutlak atas segala sesuatu di alam semesta. 

Lantas, apa sebenarnya makna dan kaitan mendalam antara kedua nama ini? 

Bagaimana dampaknya terhadap rezeki, hati, dan perilaku kita sehari-hari? 

Dan seperti apa sikap orang yang benar-benar mengenal serta beriman kepada Al-Qobidh dan Al-Basith? 

Mari kita telusuri jawabannya bersama-sama dalam penjelasan berikut ini.



Al-Qobidh dan Al-Basith Bukan Nama Pemberian Makhluk 

Sebagaimana nama-nama Allah yang lain, Al-Qobidh dan Al-Basith bukanlah gelar yang diciptakan atau diberikan oleh makhluk. Kedua nama ini disebutkan secara langsung dan jelas di dalam Al-Qur'an, menjadi bukti kebenaran sifat-Nya. 

Allah SWT berfirman:

 مَنْ ذَا الَّذِيْ يُقْرِضُ اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضٰعِفَهٗ لَهٗۤ اَضْعَا فًا کَثِيْرَةً ۗ وَا للّٰهُ يَقْبِضُ وَيَبْصُۜطُ ۖ وَ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ 

"Barang siapa meminjami Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah melipatgandakan ganti kepadanya dengan banyak. Allah menahan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 245)

Ayat ini dengan tegas menegaskan bahwa Dialah yang memegang kendali penuh atas penyempitan dan pelebaran, baik itu harta, kehidupan, maupun hati. 


Pengertian dan Makna Al-Qobidh dan Al-Basith 

Secara bahasa, Al-Qobidh bisa diartikan sebagai Maha Menahan, Maha Mengambil, Maha Menggenggam, atau Maha Menyempitkan. Sedangkan Al-Basith artinya Maha Melapangkan, Maha Meluaskan, atau Maha Memberikan. 

Menurut Imam Al-Ghazali, makna kedua sifat ini adalah: Al-Qobidh adalah Dia yang mengambil ruh dari tubuh manusia ketika wafat. Sedangkan Al-Basith adalah Dia yang meniupkan ruh ke dalam jasad manusia ketika dihidupkan. 

Imam Al-Ghazali juga menjelaskan makna lain yang sangat dekat dengan kehidupan kita: - Al-Qobidh dimaknai sebagai Dia yang mengambil sedekah atau zakat dari orang kaya. - Al-Basith adalah Dia yang menyalurkan harta tersebut kepada orang-orang dhuafa dan yang membutuhkan. 

Lebih dalam lagi, Al-Basith adalah Dia yang melapangkan rezeki seseorang sampai semua kebutuhannya tercukupi. Sebaliknya, Al-Qobidh adalah Dia yang menahan rezeki sehingga seseorang merasa kekurangan, sesuai dengan takdir yang telah Dia tetapkan. 

Kedua sifat ini juga bekerja pada hati manusia:

  • Allah yang menggenggam (menahan) hati dan membatasinya dengan keagungan-Nya. 
  • Allah pula yang melapangkan hati manusia dengan kebaikan, kelembutan, dan keindahan rahmat-Nya.     


Allah Menyempitkan dan Melapangkan Rezeki 

Kita sudah mengetahui bahwa Allah-lah Pencipta rezeki dan segala sebab yang membawanya sampai kepada hamba-Nya. 

Maka, sangat wajar jika Allah pun yang berhak menahan atau melapangkannya sesuai kehendak dan hikmah-Nya. 

Ketika Allah menyempitkan rezeki seseorang, hal itu membuktikan bahwa rezeki itu mutlak milik-Nya. Sekuat apa pun manusia berusaha, hasilnya akan sia-sia belaka jika tidak ada izin dari-Nya, kecuali bagi hamba yang berserah diri (tawakal) di tengah ikhtiarnya. 

Begitu pula ketika Allah melapangkan rezeki, tidak ada satu pun kekuatan di alam semesta ini yang mampu menahannya. Rezeki bisa datang dari arah yang sama sekali tidak disangka-sangka. 

Oleh karena itu, hanya kepada-Nyalah kita memohon dan berharap, yang selalu disertai dengan rasa takut akan melanggar larangan-Nya.   


Allah Menyempitkan dan Melapangkan Hati Manusia 

Selain dalam hal materi, kuasa Al-Qobidh dan Al-Basith juga sangat nyata dirasakan dalam perasaan dan kondisi hati. 

Saat manusia ditimpa musibah, merasa lelah, putus asa, atau gelisah, sebenarnya saat itulah Al-Qobidh sedang menyempitkan hati hamba-Nya. Ini bisa jadi sebagai ujian atau teguran agar manusia kembali ingat dan memohon pertolongan hanya kepada Allah. 

Sebaliknya, ketika hati merasa tenang, lapang, bahagia, dan mendapatkan jalan keluar dari kesulitan, itulah kerja Al-Basith yang melapangkan hati agar hamba-Nya bersyukur. 

Perasaan takut, sempitnya dada, dan kegelisahan adalah manifestasi dari sifat Al-Qobidh. Sementara rasa tentram, damai, dan bahagia adalah manifestasi dari sifat Al-Basith. 

Menyadari hal ini membuat kita mengerti bahwa suka dan duka datangnya dari Allah. Ini bisa menghilangkan rasa putus asa dan keluhan, menggantikannya dengan rasa syukur dan sabar.   


Keutamaan Mengenal dan Beriman Kepada Al-Qobidh dan Al-Basith

Orang yang benar-benar mengenal kedua sifat ini akan memiliki perubahan sikap yang luar biasa, antara lain: 

  1. Seimbang antara Takut dan Harap. Perasaan takut akan azab-Nya dan berharap akan rahmat-Nya akan selalu hadir bersamaan. Tidak ada salah satu yang mendominasi secara berlebihan. Dalam literasi Sunda (karena kami orang Sunda), sikap ini disebut "Ajrih", yaitu rasa takut yang disertai rasa cinta, sehingga mendorong kita untuk mendekatkan diri kepada-Nya dengan sebaik-baiknya, bukan malah menjauh. 
  2. Bijak dalam Bersikap. Ia tahu kapan harus "menutup diri" dan kapan harus "membuka hati". - Ia akan menutup hatinya (Al-Qobidh) ketika berhadapan dengan maksiat atau ajakan keburukan. ​ - Ia akan membuka dan melapangkan hatinya (Al-Basith) dalam hal kebaikan, seperti berhubungan baik dengan tetangga, mau mendengar nasihat, dan peduli sesama. 
  3. Seimbang dalam Menegakan Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Ia bisa menyenangkan hati orang lain dengan menyampaikan nikmat-nikmat Allah sebagai motivasi, namun ia juga berani memperingatkan akan siksa-Nya agar manusia menjauhi maksiat.   


Kesimpulan

Dengan mengenal makna Al-Qobidh dan Al-Basith, kita menyadari bahwa suka maupun duka, kelapangan maupun kesempitan, semuanya adalah kehendak Allah yang tidak bisa dipisahkan. 

Hanya kepada Allah lah kita memohon pertolongan, berharap, dan memohon perlindungan. 

Semoga kita tidak terjebak dalam perangkap setan yang membuat kita hanya mau meminta kepada Allah tapi mengabaikan apa yang Dia murkai, sehingga kita termasuk orang yang rugi di akhirat kelak. 

Semoga bermanfaat.

Share

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel