Makna Al-Mu'iz dan Al-Mudzil: Pengertian dan Cara Allah Memuliakan serta Menghinakan Hamba-Nya - Gambar sampul postingan

Makna Al-Mu'iz dan Al-Mudzil: Pengertian dan Cara Allah Memuliakan serta Menghinakan Hamba-Nya

Apakah Anda tahu bahwa di balik nama Al-Mu'iz dan Al-Mudzil tersimpan rahasia tentang bagaimana Allah memuliakan dan menghinakan hamba-Nya? 

Bukan sekadar soal kedudukan dunia semata, melainkan juga berkaitan dengan kondisi hati dan jalan menuju kebahagiaan akhirat. 

Pengertian Al-Mu'iz dan Al-Mudzil 

Menurut Imam Ghazali Dalam kitab Al-Maqshadul Asna, menjelaskan bahwa makna Al-Mu'iz dan Al-Mudzil adalah: Allah SWT adalah Yang memberikan kerajaan atas orang-orang yang Dia kehendaki, dan Dia pula yang mencabut kerajaan atas orang-orang yang Dia kehendaki. 

Selain itu, Allah memuliakan orang yang Dia kehendaki dan juga menghinakan orang yang Dia kehendaki. 


Cara Allah Memuliakan dan Menghinakan Hamba-Nya 

Orang yang dimuliakan Allah adalah mereka yang diberikan kerajaan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang dihinakan adalah sebaliknya. 

Orang yang mendapatkan kerajaan dunia dan akhirat diberikan tiga hal oleh Allah: - Allah angkat dari orang itu hijab yang menghalangi qolbunya, sehingga hatinya bisa menyaksikan perbuatan Allah SWT pada tiap-tiap sesuatu. ​

Allah memberikan rasa cukup dengan rizki yang ia dapat dan tidak menginginkan apa yang tidak ia miliki (qona'ah). ​ Allah kuatkan orang tersebut untuk mengalahkan sifat-sifat nafsiyah manusia seperti jahil (bodoh), bakhil (kikir), tamak dan sombong. 

Penjelasan lengkap makna Al-Muiz dan Al-Mudzil

Memandang Segala Sesuatu Sebagai Ciptaan Allah 

 Segala sesuatu ada dan terjadi karena Allah yang menciptakannya. Bagi orang yang dibukakan hijab hatinya, ia tidak hanya melihat sesuatu yang ada, tapi hatinya juga menyaksikan af'al Allah. Sehingga segala yang dilihatnya adalah bukti kekuasaan dan keagungan Allah yang hanya bisa difahami oleh hati. 

Ketika melihat akhlak dan ibadah orang shaleh, yang dilihatnya adalah af'al Allah, dan kekagumannya pada hakikat Allah yang menggerakan mereka untuk khusu' dan taat. 

Begitupun ketika melihat orang yang berbuat maksiat atau kemungkaran, yang dilihatnya adalah ciptaan Allah, sehingga tergerak hatinya untuk mencegahnya sesuai kemampuan agar orang tersebut tidak celaka di dunia dan akhirat. 

Ketika melihat amal shaleh orang lain, ia merasa termotivasi untuk meminta kekuatan iman dan beramal shaleh. 

Ia selalu melihat ke atas untuk urusan akhirat dan melihat ke bawah untuk urusan dunia. 

Ketika melihat orang lain melakukan maksiat, ia bersyukur tidak dijadikan seperti mereka dan menyadari bahwa ia sedang dibukakan ladang pahala dengan mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. 

Jadi, bagi orang yang dibukakan hijab hatinya, segala ciptaan Allah tidak ada yang sia-sia tapi berisi hikmah. 


Melatih Hati Agar Qona'ah dan Faidahnya 

Qona'ah adalah lawan dari tamak yang merupakan sifat bawaan manusia dan harus dikendalikan melalui latihan dengan cara: 

  1.  Sering berdo'a kepada Allah agar diberikan hati yang qona'ah. ​
  2. Menanamkan keyakinan bahwa rizki sudah diatur oleh Allah dan tidak akan tertukar. ​
  3. Memandang rizki oranglain yang lebih rendah agar timbul rasa syukur. 
Faidah bagi orang yang memiliki qona'ah adalah: 

  1. Dicintai Allah sebagai kekasih-Nya. ​
  2. Menjadi tanda sempurnanya iman. ​
  3. Hidupnya senang tanpa diliputi perasaan susah. ​
  4. Disukai banyak orang dibandingkan orang yang tamak. 


Mengalahkan Sifat Bawaan Manusia 

 Setiap manusia memiliki sifat bawaan seperti bodoh, kikir, tamak dan sombong yang harus dikalahkan agar menjadi orang yang dimuliakan Allah. 

Orang yang mata hatinya tertutup hijab karena sifat-sifat nafsiyah ini adalah orang yang dihinakan Allah, karena buta mata hatinya dan tidak bisa membedakan antara haq dan bathil, sehingga celaka di dunia dan akhirat. 

Untuk mengatasinya: 

  1. Kebodohan: Duduk bersama ulama di majlis ilmu untuk mengetahui hukum syari'at dan mendengarkan nasehat. ​
  2. Kekikiran: Membiasakan bersedekah walaupun kecil untuk melatih keikhlasan. ​
  3. Keserakahan: Belajar bersyukur atas rizki yang diberikan dan mencukupi hati tanpa mendambakan apa yang tidak dimiliki. ​
  4. Kesombongan: Mengakui kelemahan diri, menyadari bahwa segala yang dimiliki adalah titipan Allah yang kelak dimintai pertanggungjawaban. 

Keutamaan Orang yang Mengenal Al-Mu'iz dan Al-Mudzil 

Orang yang benar-benar mengenal Allah Al-Mu'iz dan Al-Mudzil akan memiliki keutamaan dan sikap sebagai berikut:

  1. Memuliakan orang yang dimuliakan Allah, seperti ulama dan orang-orang yang dicintai-Nya. ​
  2. Menjadi sebab dimuliakannya seseorang oleh Allah baik dengan tangannya maupun dengan lisannya. 


Penutup 

Dengan demikian, sebagai mukmin kita wajib membenarkan bahwa Allah lah yang memuliakan dan menghinakan seseorang, Dia lah yang haq disebut Al-Mu'iz dan Al-Mudzil. 

Semoga Allah memudahkan kita untuk benar-benar mengenal-Nya yang memiliki nama Al-Mu'iz dan Al-Mudzil, sehingga kita menjadi seorang hamba yang dimuliakan karena penghambaan kita kepada-Nya didasari kesadaran bahwa Dia lah yang memuliakan dan menghinakan seseorang dengan kehendak-Nya, amin.

Share
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

Belum ada Komentar untuk "Makna Al-Mu'iz dan Al-Mudzil: Pengertian dan Cara Allah Memuliakan serta Menghinakan Hamba-Nya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel