Dzikir, Tafakur, dan Peningkatan Keimanan: Hubungan Keduanya serta Pentingnya Mengetahui Asma', Sifat, dan Af'al Allah
Kesadaran akan hanya menyembah Allah sudah menjadi dasar keimanan, namun Allah tidak pernah menyia-nyiakan keimanan setiap hamba-Nya – tiap orang memiliki martabat keimanan yang berbeda-beda sesuai dengan usaha masing-masing.
Namun, jika kita hanya mengandalkan keimanan tersebut tanpa upaya untuk meningkatkannya, bukan hal mustahil kita bisa tergelincir dari jalan yang benar, bahkan terjerumus pada kekufuran – baik disengaja maupun tidak.
Pentingnya Meningkatkan Keimanan
Salah satu hal yang sering kita alami adalah melemahnya rasa keimanan, terutama ketika menerima ketetapan dari Allah SWT. Banyak di antara kita yang tanpa sadar mengeluh ketika menghadapi cobaan atau tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Keluhan seperti ini termasuk bentuk kufur ni'mat, karena kita tidak menyadari bahwa setiap ujian dan ketetapan Allah adalah anugerah yang harus direnungkan. Untuk mengatasinya, hati kita harus terus diisi dengan keimanan secara bertahap dan kita perlu belajar menata hati – ilmu yang terdapat dalam pembahasan tasawuf.
Bagi orang awam, kata "tasawuf" seringkali terdengar menakutkan, padahal tidak demikian. Kita perlu mengubah mindset tentang tasawuf dengan mencari tahu bahwa ajaran ini bukan hanya tentang menyepi di gunung atau hutan, melainkan bagian dari syariat yang diajarkan Rasulullah SAW untuk mengelola hati dan menghindari penyakit jiwa yang bisa menghanguskan amal kita.
Definisi Iman
Secara bahasa, iman berarti percaya. Namun menurut istilah syariat Islam, iman adalah persaksian dengan hati, ucapan lisan dengan mengucap kalimat syahadat "Asyhadu alla Ilaha illallah wa Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah", dan dibuktikan dengan perbuatan yaitu melaksanakan perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya.
Kategori Iman
Berbicara tentang keimanan, terdapat dua kategori fenomena yang bisa kita temukan di dalam keluarga maupun masyarakat:
A. Iman Taqlidi: adalah keimanan yang hanya mengikuti garis keturunan atau lingkungan sekitar tanpa pemahaman mendalam.
Seseorang mungkin mengaku beriman hanya karena terlahir dari keluarga muslim, namun terlahir dari keluarga muslim saja tidak menjamin bahwa dia memiliki keimanan yang benar. Dalam pandangan aqidah dan tasawuf, keimanan seperti ini dianggap bathil.
B. Iman Tafshili: Keimanan dalam pandangan tasawuf harus berdasarkan hasil tafakur – yaitu keimanan yang dirinci (tafshil) dengan cara merenungkan asma', sifat, dan af'al Allah SWT.
Iman itu melibatkan hati karena tempatnya keimanan adalah di dalam hati. Ketika hati belum merasakan kepercayaan yang kuat, maka apa yang diucapkan lisan bisa saja tidak sesuai dengan yang dirasakan. Sikap malas dan melalaikan kewajiban sebagai mu'min adalah bukti ketidakpastian kita sebagai hamba.
Maka dalam pandangan tasawuf, keimanan harus dirinci melalui proses tafakur agar tumbuh rasa takjub, rasa syukur, dan rasa cinta kepada Allah. Sebagaimana perkataan guru kami: "Tidak waras orang mengaku cinta kepada Allah tapi belum mengenal-Nya."
Menumbuhkan Keimanan dengan Dzikir dan Tafakur
Tafakur adalah bentuk mengingat Allah SWT dengan cara mengenal asma', sifat, dan af'al-Nya. Untuk membantu kita dalam hal ini, ulama merancang metode dzikir yang diisi dengan tafakur sesuai tuntunan Rasulullah SAW.
Dzikir adalah perintah Allah yang tertuang dalam QS. Al-Ahzab [33]: 41:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اذْكُرُوۡا اللّٰهَ ذِكْرًا كَثِيۡرًا
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya."
Dzikir dan tafakur adalah dua hal yang tidak boleh dipisahkan, karena dzikir tanpa diisi tafakur akan menjadi dzikir yang kosong. Jika hati dibiarkan kosong saat berdzikir, hasilnya adalah dzikir yang lalai, tidak sungguh-sungguh, bahkan bisa menyebabkan tertidur karena ngantuk.
Disini saya tidak akan membahas metode dzikir secara detail, karena penjelasan yang benar dan sesuai tuntunan hanya bisa disampaikan oleh guru ruhaniyah (mursyid) yang tidak hanya menyampaikan teori, tetapi juga mengamalkannya secara langsung. Jika saya yang berbicara lebih jauh tentang hal ini, khawatir akan menyampaikan informasi yang tidak tepat.
Sesuai dengan tujuan blog ini yang merupakan hasil tholabil 'ilmi (usaha mencari ilmu), kami berharap pembaca mau menghargai pentingnya berusaha mencari ilmu dengan menghadiri majelis ilmu maupun majelis dzikir.
Kesimpulan
Iman terletak di dalam hati dan harus dibuktikan dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. Untuk menumbuhkan keimanan di dalam qolbu (hati), ulama berdasarkan Al-Qur'an dan hadits menganjurkan kita untuk bertafakur – baik melalui dzikir maupun dengan menela'ah ciptaan Allah.
Hasil tafakur tersebut kemudian perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, yang dalam istilah tarekat disebut muroqobah, sehingga keimanan kita tidak hanya berdasarkan taqlid atau ucapan semata.
Penutup
Sebagai penutup, kami mengutip perkataan guru kami Syekh Karawang Gana dalam majelis dzikir:
"Keimanan berdasarkan taqlid itu batil, karena hujahnya jika seseorang menganggap dirinya beriman karena dilahirkan dari keluarga muslim, maka jika seandainya dia dilahirkan dari keluarga non-muslim, dia pun akan menjadi kafir."
Ala kulli hal, jangan pernah merasa diri paling beriman dengan menyebut orang lain kafir. Karena keimanan membutuhkan proses dan usaha yang konsisten, yaitu dengan cara menghadiri majelis ilmu dan majelis dzikir sehingga sumber pengetahuan jelas dan yang menyampaikannya adalah orang yang tepat.
Nah, itu tadi sedikit yang bisa saya bagikan di artikel kali ini tentang pentingnya mengenal Allah dalam rangka menumbuhkan keimanan. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Belum ada Komentar untuk "Dzikir, Tafakur, dan Peningkatan Keimanan: Hubungan Keduanya serta Pentingnya Mengetahui Asma', Sifat, dan Af'al Allah"
Posting Komentar