Makna Ar Razaq Yang Maha Pemberi Rizki
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّا قُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ
Di ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia adalah Ar Razaq Maha Pemberi Rizki yang dengan ayat ini semestinya kita mengetahui dan memahami bahwa rizki itu sesungguhnya berasal dari-Nya.
Pengertian dan Makna Ar Razaq
Sebagaimana ayat yang tertulis di atas, Ar Razaq bisa diartikan Maha Pemberi Rizki, sedangkan makna dari Ar Razaq menurut kaul imam Ghazali adalah Dia (Allah) yang menciptakan rizki, menciptakan orang-orang yang menerima rizki itu, Dia pula yang menyampaikan rizki itu beserta sebab-sebab datangnya rizki tersebut.
Jadi, rizki bagi tiap-tiap orang itu sudah diatur oleh Allah dengan teliti dan pasti, takan tertukar dan Allah tidak pernah merasa direpotkan karena mengatur rizki bagi seluruh makhluqNya.
Dari makna Ar Razaq yang disampaikan oleh imam Ghazali, bisa difahami bahwa rizki yang Allah berikan kepada seluruh makhluq-Nya itu disertai oleh sebab-sebab, maka berarti sampainya rizki kepada tiap-tiap makhluq itu butuh proses.
Allah Menetapkan Rizki Bagi Tiap-tiap Makhluq
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ ثُمَّ رَزَقَكُمْ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ۗ هَلْ مِنْ شُرَكَآئِكُمْ مَّنْ يَّفْعَلُ مِنْ ذٰ لِكُمْ مِّنْ شَيْءٍ ۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
Allah Subhanahu Wa Ta'ala juga berfirman:
وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
Dari dua ayat yang disebutkan di atas, Allah menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan manusia beserta rizkinya, hanya Allah yang mengatur melalui siapa dan bagaimana rizki itu sampai kepada manusia tanpa bantuan siapapun, tersirat makna bahwa hanya kepadaNya lah manusia seharusnya meminta dan bersyukur bukan kepada sesuatu selain Dia.
Allah sudah menetapkan rizki beserta proses kejadiannya bagi tiap-tiap makhlukNya dan itu semua sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Tidak ada satu pun makhluq yang luput dari rizki Allah meski seandainya ia bersembunyi, tetap saja ia mendapatkan rizki yang sudah Allah tetapkan untuknya.
Kisah Nabi Musa yang Khawatir Terhadap Rizki Anak Istrinya Karena Ditinggalkan Berdakwah
Ketika Nabi Musa diangkat sebagai Rasul oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala, maka beliau oleh Allah diperintahkan berdakwah kepada bani Israil, bahkan mendapatkan perintah mengajak dan menyadarkan fir'aun untuk hanya menyembah Allah.
Nah, suatu ketika nabi Musa merasa kuatir terhadap anak istrinya yang ditinggalkan berdakwah menyampaikan wahyu, timbul sisi kemanusiaan pada beliau (sifat jaiz bagi para Rasul) karena beliau merasa mengabaikan nafkah untuk keluarganya.
Kemudian datanglah wahyu dari Allah agar nabi Musa memukul sebuah batu dengan tongkatnya, maka batu itupun terbelah, tapi ternyata di dalamnya masih ada batu lagi, sampai tigakali beliau membelah batu menggunakan tongkatnya barulah terlihat isi di dalam batu itu.
Di dalam batu itu beliau melihat ulat yang di mulutnya terdapat makanan, kemudian oleh Allah beliau diberi kemampuan bisa mendengar apa yang ulat itu ucapkan.
Ulat itu berkata: "Maha Suci Tuhan yang melihatku yang mendengar perkataanku, dan mengetahui keberadaanku, dan mengingatku, tidak melupakanku."
Melihat kejadian itu nabi Musa menyadari bahwa Allah tidak mengabaikan rizki bagi seluruh makhluqNya. Jangankan terhadap manusia, bahkan terhadap ulat yang berada di dalam batu pun Allah tidak lupa memberi rizki.
Rizki yang didapatkan ulat bukan berarti tanpa ikhtiar. Karena lemahnya keadaan ulat, maka ikhtiar baginya adalah berdo'a dan itu sebenarnya bagian dari sekenario yang sudah Allah tetapkan dengan kehendakNya.
Secara hakikat, berdo'a atau pun tidak itu tidak mempengaruhi Allah untuk memberikan rizkiNya karena Allah sudah menjamin bagi tiap-tiap makhluq, namun dengan berdo'a memohon rizki itu menandakan dan mengakui bahwa kita ini lemah dan butuh Allah.
Kisah Imam Syafi'i yang Beradu Argumen Dengan Gurunya Tentang Rizki
Sebuah pendapat harus dibuktikan kebenarannya, mungkin itu yang ada difikiran imam Syafi'i karena setelah berdebat dengan gurunya beliau pergi menjemput rizki hingga rizki itu sampai di tangan beliau.
Imam Syafi'i kembali menemui gurunya dengan membawa banyak buah-buahan sebagai bukti hasil dari ikhtiarnya kemudian diberikannya buah-buahan tersebut kepada gurunya yaitu imam Malik.
Imam Malik mengambil buah-buahan tersebut dan memakannya, kemudian imam Syafi'i menyampaikan bahwa buah-buahan yang beliau bawa adalah rizki yang beliau dapat dengan ikhtiar, sementara imam Malik menanggapinya bahwa beliau sedang menikmati buah-buahan sebagai rizki yang telah Allah tetapkan dan Allah berikan berupa buah-buahan melalui imam syafi'i (tanpa ikhtiar).
Pendapat dua imam dalam cerita ini tidak ada yang disalahkan karena secara hakikat, iya bahwa rizki sudah Allah jamin, dan secara syari'at Allah dan RasulNya juga memerintahkan kita untuk berikhtiar di jalan Allah agar ada hikmah yang bisa kita petik.
Guru kami syekh Karawang Gana berkata bahwa tujuan berdo'a adalah melaksanakan perintah Allah bukan meminta hasil karena hasil dari ikhtiar (termasuk berdo'a), sudah Allah persiapkan jauh sebelum kita mengerjakan ikhtiar tersebut, tanpa kita meminta sebenarnya Allah sudah memberi karena Dia itu Qodim (dahulu dan tak ada yang mendahuluiNya).
Kenapa ada pola fikir seperti itu dalam islam?
Meyakini bahwa segala sesuatunya sudah diatur oleh Allah adalah sebuah keharusan bagi tiap-tiap muslim agar segala apa yang telah kita lakukan tidak meniadakan peran Allah karena kenyataannya Allah lah yang mengatur segalanya, termasuk hasil.
Tauhid bukan mendorong seseorang untuk malas tapi menjaga hati kita agar tidak sombong, merasa semua yang kita dapatkan atas hasil kerja keras kita, lupa bersedekah dan lupa bersyukur kepada Allah.
Guru kami juga pernah berkata, bahwa kita harus sadar kedudukan (maqom) kita dimana, karena bagi kita orang awam, antara qolbi kauli dan fi'li itu harus berjalan bersama-sama. Jangan cuma berdo'a tapi tanpa usaha, "Dayus" kata beliau. Konyol.
Fadhilah Bagi yang Beriman Kepada Ar Razaq
- Dia tidak akan menunggu rizki, melainkan hanya dari Allah dan menyerahkan urusannya hanya kepada Allah (tawakal).
- Bahwa dia hendaknya menjadi sebab sampainya rizki kepada manusia.
Jadi, ada dua sikap pada orang yang benar-benar mengenal Ar Razaq yaitu tidak pernah bersandar kepada sebab untuk mendapatkan Rizki dari Allah, dan menjadi orang yang memiliki peran sampainya rizki dari Allah kepada oranglain, entah dengan memberikan lapangan pekerjaan atau membantu orang lain dalam berikhtiar.
Manusia memang butuh proses dalam mendapatkan rizki, dan syari'at menganjurkan demikian, tapi jangan sampai terbersit di dalam hati kita atau meyakini bahwa kalau bukan karena sebab usaha kita maka kita tidak makan. Dalam pandangan ilmu tashauf keyakinan seperti itu adalah syirik.
Kemudian, orang yang kikir atau mempersulit sampainya rizki dari Allah kepada oranglain, maka ia sebenarnya sedang memusuhi Allah karena orang yang menjadi musuh Allah salah satunya yaitu orang yang tidak mau membayarkan/menyampaikan haq oranglain untuk mendapatkan rizki dari Allah.
Kategori Tawakal Bagi Tiap-tiap orang
- Manusia yang belum sampai kepada derajat tawakal. Orang ini mengetahui bahwa Allah adalah tempat segala urusan dikembalikan, tapi dia lupa bertawakal karena dia hanya berpegang kepada sebab.
- Orang yang sudah sampai kepada derajat tawakal. Orang ini faham betul dan yakin bahwa Allah akan memberi dia rizki tanpa sedikitpun ia berkecimpung dalam urusan duniawi, yang dia lakukan adalah fokus di jalan Allah, beribadah hanya kepada Allah.
- Orang yang sudah sampai kepada derajat tertinggi dalam bertawakal. Orang ini memiliki sabab untuk meraih rizki, berusaha dengan tenaganya meraih rizki Allah, tapi tidak ada sedikitpun di dalam hatinya bersandar kepada usahanya, yang ia tuju hanyalah Allah di dalam ikhtiarnya.

Belum ada Komentar untuk "Makna Ar Razaq Yang Maha Pemberi Rizki"
Posting Komentar