Makna Al-Bashir: Allah Maha Melihat Segala Sesuatu
Pernahkah anda merasa sendirian di tempat yang gelap atau merasa tidak ada orang yang melihat?
Faktanya, tidak ada satu pun sudut di alam semesta ini yang luput dari pengawasan Allah.
Salah satu nama indah-Nya, Al-Bashir, mengingatkan kita bahwa Dia melihat segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Yuk! Simak apa kata Imam Ghazali tentang makna mendalam dari nama Al-Bashir berikut ini.
Pengertian dan Makna Al-Bashir
Al-Bashir adalah salah satu dari Asmaul Husna yang artinya Maha Melihat. Nama ini menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki sifat penglihatan yang sempurna, menyeluruh, dan abadi.
Menurut Imam Al-Ghazali, makna Al-Bashir adalah Dia yang melihat dan menyaksikan segala sesuatu, baik yang nampak maupun yang tersembunyi. Seluruh ciptaan-Nya dilihat dan disaksikan tanpa memerlukan alat penglihatan seperti manusia, serta tanpa ada perubahan sedikitpun pada Dzat-Nya.
Allah menyaksikan apa yang ada di bawah bumi sebagaimana Dia menyaksikan apa yang ada di atas langit. Penglihatan-Nya terjadi dengan sifat Bashar yang senantiasa melekat pada keagungan-Nya.
Al-Bashir Bukan Nama Pemberian Makhluk
Perlu diketahui bahwa nama Al-Bashir bukanlah gelar atau pemberian dari makhluk, melainkan nama yang sudah ada sejak kekekalan dan disebutkan langsung oleh Allah SWT di dalam Al-Qur'an. Hal ini menjadi bukti kebenaran sifat ini.
Beberapa firman Allah SWT yang menyebutkan tentang sifat Al-Bashir antara lain:
وَاللّٰهُ بَصِيْرٌ ۢبِالْعِبَادِ
"...Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya." (QS. Ali 'Imran: 20)
وَاللّٰهُ بَصِيْرٌ ۢبِمَا يَعْمَلُوْنَ
"...Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-Ma'idah: 71)
وَاعْمَلُوْا صَالِحًا ۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
"...Dan kerjakanlah kebajikan (amal shaleh). Sungguh, Aku Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. Saba': 11)
Bukti Keimanan Seorang Mukmin Terhadap Al-Bashir
Meyakini bahwa Allah itu Al-Bashir tidak cukup hanya dengan lisan, tetapi harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Seseorang yang benar-benar beriman kepada nama ini akan memiliki ciri-ciri khusus, antara lain:
- Merasa Cukup dengan Pengawasan Allah. Ia merasa cukup dan puas dengan mengetahui bahwa amal perbuatannya dilihat oleh Allah. Tidak perlu pujian atau pengakuan manusia, karena ridho Allah adalah tujuan utamanya.
- Merasa Malu dan Takut Berbuat Maksiat. Imam Al-Ghazali berkata, betapa beraninya orang yang berbuat maksiat padahal ia tahu Allah melihatnya. Dan betapa kafirnya orang yang melakukan maksiat karena mengira Allah tidak melihatnya. Kesadaran ini membuat hati seorang mukmin selalu takut dan malu untuk melanggar larangan-Nya.
- Tidak Meremehkan Pandangan Allah. Seringkali manusia bersembunyi saat berbuat salah agar tidak dilihat orang lain, namun lupa bahwa Allah Maha Melihat. Orang yang beriman tidak akan pernah merendahkan atau meremehkan pandangan Allah SWT.
- Menjaga Pandangan Mata. Allah yang memberikan nikmat mata kepada hamba-Nya, maka seorang mukmin akan menggunakannya untuk hal-hal yang diridhoi. Ia akan menjaga matanya dari melihat hal-hal yang diharamkan Allah dan memfokuskan pandangan pada kebaikan.
- Merasa Dilihat Oleh Allah. Dia akan merasa bahwa dirinya senantiasa dilihat oleh Allah baik yang sifatnya dzahir maupun batin.
Keutamaan Menjaga Penglihatan
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ عَيْنٍ بَاكِيَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا عَيْنًا غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللَّهِ، وَعَيْنًا سَهِرَتْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَعَيْنًا خَرَجَ مِنْهَا مِثْلُ رَأْسِ الذُّبَابِ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
"Tiap-tiap mata akan menangis pada hari kiamat, kecuali mata yang tidak mau melihat yang diharamkan oleh Allah, dan mata yang terjaga (di kala malam) di jalan Allah, dan mata yang mengeluarkan air mata sebesar kepala lalat karena takut kepada Allah Azza Wajalla." (HR. At-Tirmidzi)
Hadits ini mengisyaratkan bahwa pada hari kiamat nanti, sebagian besar manusia akan menangis ketakutan menghadapi hisab dan azab. Namun, ada tiga jenis mata yang dikecualikan dan akan selamat dari tangisan tersebut, salah satunya adalah mata yang sudah terbiasa menundukkan pandangan dan menjauhi apa yang dilarang oleh Allah.
Menjaga pandangan bukan hanya soal fisik, tapi bentuk ketaatan yang menunjukkan bahwa hamba tersebut sungguh-sungguh sadar bahwa Allah Maha Melihat.
Contoh Perkara yang Diharamkan untuk Dilihat
Setelah memahami betapa pentingnya menjaga pandangan, timbul pertanyaan, hal-hal apa saja yang sebenarnya dilarang untuk dilihat menurut syariat?
Secara garis besar, perkara yang diharamkan dilihat meliputi hal-hal berikut:
- Melihat Aurat Orang Lain. Melihat aurat orang lain adalah haram, kecuali ada sebab yang dibolehkan syara', seperti hubungan suami istri atau kebutuhan medis yang mendesak. Selain itu, memandang aurat hukumnya dilarang keras.
- Mengintip Ke dalam Rumah Orang Lain. Dilarang melihat ke dalam rumah orang lain tanpa izin, meskipun hanya sekadar ingin bertamu. Contohnya mengetuk pintu sambil mengintip celah pintu atau jendela untuk melihat isi rumah. Hal ini termasuk pelanggaran terhadap privasi dan aib orang lain.
- Melihat Apa yang Disembunyikan Orang Lain. Memandang atau mengintip barang-barang yang memang sengaja ditutupi atau disembunyikan oleh pemiliknya. Misalnya melihat-lihat isi dompet, tas, surat pribadi, atau ponsel orang lain tanpa izin.
- Memandang Perbuatan Munkar. Melihat dengan sengaja dan bahkan menikmati pemandangan orang lain yang berbuat maksiat atau tidak menutupi aurat dengan sempurna. Mata yang terbiasa melihat keburukan akan membuat hati menjadi keras dan lama-kelamaan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa.
Cara Agar Merasa Selalu Dilihat oleh Allah
Meyakini bahwa Allah adalah Al-Bashir seharusnya melahirkan perubahan perilaku. Sungguh tidak masuk akal jika kita mengaku beriman bahwa Allah Maha Melihat, namun hati kita tidak merasa malu dan takut saat hendak berbuat maksiat.
Kesadaran ini harus tumbuh dari hati dan pikiran, bahwa di mana pun kita berada, tidak ada satu gerak-gerik pun yang luput dari pengawasan-Nya. Lantas, bagaimana cara melatih diri agar selalu merasa diawasi oleh Allah?
Para ulama mengajarkan sebuah dzikir pendek namun sangat dahsyat pengaruhnya untuk hati. Bacalah kalimat ini berulang-ulang agar tertanam kuat dalam kesadaran bahwa kita sedang dilihat, dijaga, dan disaksikan oleh Allah SWT setiap detiknya.
اَللّٰهُ مَعِىْ ۙ اَللّٰهُ نَاظِرٌ اِلَيَّ ۙ اَللّٰهُ شَاهِدٌ اِلَيَّ
"Allahu ma'iya, Allahu nazhirun ilayya, Allahu syahidun ilayya."
Artinya: "Allah menyertaiku, Allah menjagaku, Allah saksi bagiku."
Anjuran: Bacalah dzikir ini sebanyak 11 kali setiap selesai shalat atau saat sedang sendirian sambil direnungkan dan ditafakuri.
Kesimpulan
Mengingat makna Al-Bashir mengajarkan kita untuk selalu hidup dalam pengawasan Allah. Jadikan sifat ini sebagai pengendali diri agar kita selalu berbuat baik dan menjauhi keburukan, di mana pun kita berada.