Makna Al-Adl: Memahami Keadilan Allah Dalam Ciptaan dan Hukum-hukumNya - Gambar sampul postingan

Makna Al-Adl: Memahami Keadilan Allah Dalam Ciptaan dan Hukum-hukumNya

"Allah tidak adil" adalah bisikan yang paling sering muncul saat manusia kecewa dengan takdir. Seperti gagal dalam ujian hidup, rumah tangga, rezeki seret, seolah hukum Allah terasa tidak adil.

Padahal, kata Imam Al-Ghazali, kita tidak akan paham keadilan Allah sebelum merenungi perbuatan-Nya. 

Lalu bagaimana sebenarnya makna Al-Adl? Mengapa perbedaan yang Allah ciptakan justru bukti keadilan-Nya? 

Artikel ini akan membedah tuntas nama Allah Al-Adl berdasarkan penjelasan Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Maqshadul Asna.

Ilustrasi Asmaul Husna Al-Adl: Allah Maha Adil


Pengertian dan Makna Al-Adl 

Al-Adl merupakan salah satu nama Allah yang berarti Maha Adil. adil adalah menempatkan sesuatu sesuai tempat dan porsinya. Lawan dari adil adalah zalim, yaitu menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya. 

Imam Al-Ghazali menjelaskan makna Al-Adl sebagai berikut: 

Dialah Allah yang darinya terpancar keadilan, yang merupakan lawan dari sifat zalim.

Menurut Al-Ghazali, seseorang hanya dapat memahami keadilan Allah setelah merenungkan perbuatan dan ciptaan-Nya. Dengan mentadabburi  af'al Allah, kita akan menyadari bahwa segala yang diciptakan dan dikehendaki-Nya selalu dalam keadaan seimbang. Tidak ada satu pun ciptaan Allah yang sia-sia atau tidak proporsional. 


Allah Maha Adil Terhadap Ciptaan-Nya

Semakin dalam kita mengkaji ciptaan Allah, semakin tampak keterbatasan manusia. Yang kita temukan justru kekaguman pada keagungan rububiyah-Nya: indah, seimbang, dan teratur tanpa cela. Tidak ada satu pun kekurangan dalam ciptaan-Nya. 

Setiap yang Allah ciptakan menyimpan rahasia dan hikmah untuk kemaslahatan makhluk, khususnya manusia. Tidak ada ciptaan yang berdiri sendiri. Semuanya saling terhubung dan bersinergi. 

Perbedaan yang Allah tetapkan bukan bentuk ketidakadilan. Laki-laki dan perempuan, siang dan malam, kaya dan miskin, semua diciptakan dalam takaran yang seimbang. 

Tiap makhluk mendapat porsi yang tepat sesuai hikmah dan kebutuhannya. Langit, bumi, dan seluruh isinya Allah ciptakan dengan keseimbangan sempurna. Mustahil ditemukan ciptaan-Nya yang cacat atau tanpa hikmah di dalamnya. 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: 

 “(Allah) Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu lihat sesuatu yang cacat?” (QS. Al-Mulk ayat 3) 

 "Kemudian ulangi pandangan(mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa menemukan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih." (QS. Al-Mulk Ayat 4) 


Allah Maha Adil Terhadap Hukum-hukum-Nya

Selain adil dalam penciptaan, Allah juga Maha Adil dalam menetapkan hukum. Setiap syariat yang Allah tetapkan selalu sesuai dengan porsi, kondisi, dan kebutuhan tiap individu. Tidak ada ketetapan Allah yang menzalimi hamba-Nya. 

Salah satu contoh nyata keadilan hukum Allah terlihat dalam pembagian waris. Hukum waris dalam Islam tidak dibuat berdasarkan hawa nafsu, melainkan dengan hikmah dan ilmu Allah yang Maha Mengetahui maslahat tiap ahli waris. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

"Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu. Yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapaknya saja, maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."_ *(QS. An-Nisa' 4: Ayat 11)


Hikmah di Balik Ketentuan Waris

Bukan Diskriminasi, tapi Keadilan

Ketentuan waris di mana bagian anak laki-laki setara dengan bagian dua anak perempuan, bukanlah bentuk diskriminasi terhadap perempuan. 

Dalam pandangan Imam Al-Ghazali di  Al-Maqshadul Asna, keadilan Allah berarti menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Pembagian tersebut ditetapkan dengan ilmu dan hikmah-Nya yang sempurna. 

Syariat memberi tanggung jawab nafkah keluarga kepada laki-laki. Ia dibebani kewajiban menanggung orang tua, istri, dan anak-anaknya. Sementara perempuan, harta waris yang ia terima menjadi milik pribadinya tanpa kewajiban menafkahi orang lain. 

Dari sini tampak bahwa perbedaan bagian waris justru menyesuaikan dengan perbedaan beban syariat. 

Selain itu, Islam menganjurkan agar urusan waris diperhatikan sejak dini. Termasuk menunaikan utang orang tua dan memenuhi wasiat sebelum harta dibagi. 

Allah tidak membebani tiap-tiap mukalaf melainkan sesuai kesanggupannya. Sebab Allah Maha Adil. Yang berbuat zalim adalah manusia ketika tidak menempatkan dirinya dan orang lain pada tempat yang semestinya. 

Perlu dipahami, syariat memberi ruang musyawarah dalam pembagian harta. Selama dilakukan dengan ridha semua ahli waris, baligh, berakal, dan tidak melanggar ketentuan pokok, maka pembagian secara damai dibolehkan. Rincian pelaksanaannya dijelaskan luas dalam ilmu fikih. 

Dengan demikian, hukum waris dan juga hukum-hukum Islam lainnya tegak di atas prinsip keadilan, bukan keberpihakan. Setiap ketetapan-Nya mengandung maslahat yang kadang tidak langsung terlihat oleh akal manusia yang terbatas. 

Hukum waris hanyalah sebagian kecil hukum-hukum Allah bagi manusia karena ada banyak hukum-hukum Allah yang bila kita telaah semuanya menunjukkan bahwa Allah itu adil tak hanya memperhatikan hak-hak umat muslim tapi juga memperhatikan pentingnya toleransi. 


Sikap dan Keutamaan Orang yang Beriman kepada Al-Adl

Seorang mukmin yang benar-benar mengimani bahwa Allah Maha Adil akan melahirkan sikap dan keutamaan dalam dirinya. Imam Al-Ghazali dalam Al-Maqshadul Asna menjelaskan bahwa mengenal nama Allah pasti membuahkan akhlak yang sepadan. Di antara buah iman kepada Al-Adl adalah: 


1. Ridha terhadap Ketetapan dan Hukum Allah

Ia menerima dengan lapang dada segala yang Allah takdirkan, baik terkait fisik, rezeki, maupun keadaan hidupnya. Ia tidak mengubah ciptaan Allah kecuali ada alasan syar’i seperti pengobatan atau menghindari mudarat. Bersamaan dengan itu, ia tidak berkeluh kesah atas ketentuan-Nya, dan menjalankan perintah syariat dengan hati yang ikhlas. Sebab ia yakin, semua ketetapan Allah tegak di atas keadilan yang sempurna. 


2. Tumbuhnya Mahabbah kepada Allah 

Ketika seorang hamba merenungi betapa adilnya Allah dalam penciptaan dan penetapan hukum, hatinya dipenuhi rasa takjub dan syukur. Ia menyaksikan bahwa tidak ada satu pun keputusan Allah yang sia-sia atau menzalimi. Dari rasa takjub dan syukur itu, lahirlah mahabbah atau cinta yang tulus kepada Allah. Inilah puncak dari ma’rifatullah. 


3. Berlaku Adil terhadap Diri Sendiri 

Keadilan yang paling dekat adalah adil terhadap diri sendiri. Ia menempatkan segala sesuatu pada tempatnya: 

Mendahulukan wahyu di atas akal, mengendalikan hawa nafsu dengan syariat, serta menunaikan hak badan, akal, dan ruh secara seimbang. Dengan begitu, ia selamat di dunia dan akhirat. Sebab orang yang zalim terhadap dirinya adalah yang memperturutkan nafsu hingga melanggar batas Allah. 


Penutup

Maha Suci Allah Al-Adl yang ketetapan-Nya tidak pernah meleset. Yang menciptakan seimbang, menghukumi dengan bijaksana, dan tidak menzalimi satu makhluk pun. 

Semoga dengan memahami nama Al-Adl ini, kita dikaruniai hati yang ridha, lisan yang bersyukur, dan anggota badan yang adil dalam menunaikan hak Allah dan hak sesama, amiin...

Share

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel