Mengenal Al Wahhab Yang RahmatNya Melimpah
Di dalam Al Qur-anul Karim Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, bahwa orang yang beriman berdo'a:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّا بُ
"(Mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."" (QS. Ali 'Imran Ayat 8)
Ayat ini menegaskan bahwa Allah itu Al-Wahab yang rahmatNya sangat dibutuhkan, lalu apa sih makna dari Al-Wahab?
Berikut ini penjelasannya.
Pengertian dan Makna Al Wahhab
Al Wahhab bisa diartikan Maha Pemberi, sedangkan menurut imam Ghazali makna dari Al Wahhab adalah Dia (Allah) yang memberi tiap-tiap orang yang membutuhkan sesuatu yang ia butuhkan kepadaNya, tanpa mengharapkan imbalan dan tanpa kepentingan sama sekali, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Al Wahhab juga bisa diartikan Yang Maha Berhibah karena hibah adalah pemberian tanpa imbalan dan kepentingan.
Apabila ada yang memberi sesuatu disertai maksud dan tujuan tertentu, maka ia tidak bisa dikatakan Al Wahhab, sedangkan pemberian yang dilakukan dengan sering dan banyak tanpa kepentingan apapun maka pelakunya disebut "Wahhab" dan hanya Allah yang pantas disebut Al Wahhab.
Adapun perkara perintah melaksanakan ta'at bagi tiap-tiap mukmin tujuannya adalah untuk kebaikan mukmin itu sendiri, sedikitpun Allah tidak mengambil manfaat dari hamba-hambaNya yang bertaqwa.
Allah Maha Mengetahui apa yang dibutuhkan oleh tiap-tiap hambaNya, maka Allah menerapkan hukum syari'at agar hajat mereka sampai kepada-Nya kemudian Allah kabulkan permintaan mereka yang disertai dengan ridho-Nya.
Allah mentaklif tiap-tiap hambaNya dengan hukum syari'at agar mereka memiliki adab bagaimana bersikap dan berhubungan dengan Allah maupun dengan sesamanya, sehingga mereka selamat di dunia dan di akhirat.
Jadi, diberlakukannya hukum syari'at sebenarnya adalah bukti bahwa Allah sangat mencintai hambaNya dengan memberikan manfaat kepada tiap-tiap hambaNya yang bertaqwa yang bisa dirasakan baik di dunia maupun di akhirat.
Sebanyak apapun ibadah kita kepada Allah tidak akan menambah kedudukan Allah Yang Maha Tinggi, dan sebanyak apapun maksiat yang kita kerjakan tidak akan merendahkan Maha Mulianya Allah, baik maupun buruk amal yang kita kerjakan konsekwensinya akan kembali kepada kita.
Apa yang disampaikan oleh ulama di atas, jelas bahwa Allah sangat pantas dan haq disebut Al Wahhab, Yang Maha Pemberi.
Allah Maha Pemberi Rahmat
Dari ayat yang kita baca di atas, sebenarnya Allah menuntun hamba-hambaNya untuk hanya meminta kepadaNya atas segala apa yang kita butuhkan, dan hal yang paling kita butuhkan adalah rahmat Allah.
Nah, sebenarnya apa sih rahmat itu?
Pengertian Rahmat
Secara sederhana rahmat bisa diartikan kasih sayang, namun ulama menjelaskan bahwa pengertian rahmat itu sebenarnya mencakup 6 hal diantaranya yaitu:
- Hasilnya iman, tauhid dan ma'rifat di dalam qolbu.
- Hasilnya cahaya ta'at dan ibadah pada anggota tubuh.
- Hasilnya kemudahan, sebab-sebab kehidupan, keamanan, kesehatan dan kecukupan.
- Hasilnya kemudahan ketika sakaratul maut.
- Hasilnya kemudahan menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.
- Hasilnya kemudahan disaat kelak kita dihisab dan bertemu Allah di dalam surga.
Jadi, ketika seorang mukmin meminta rahmat Allah, maka berarti ia meminta keenam perkara yang disebutkan diatas, begitupun ketika Allah meberikan rahmatNya kepada hambaNya berarti Allah memberikan sebagian atau seluruh perkara yang disebutkan diatas.
Hal-hal yang Mendatangkan Rahmat Allah
- Berdo'a kepada Allah meminta rahmatNya.
- Hadir di majlis ilmu dan majlis dzikir.
- Ziarah ke makam orang shalih.
- I'tikaf di masjid.
- Membaca Al Qur-an.
Rahmat hanya diberikan oleh Allah kepada mereka yang beriman yang dicintaiNya, bukan kepada orang-orang kafir, maka bagi kita sebagai muslim harus senantiasa husnudzhon dan tinggi pengharapan (roja) dengan memohon semoga Allah memberikan rahmatNya kepada kita, dan Allah telah mengajarkan do'anya seperti yang tertulis pada ayat yang kita baca di atas.
Kedua yaitu hadir di majlis ilmu dan majlis dzikir, karena dengan menghadiri dua majlis ini berarti kita sedang mengingat dan mengagungkan Allah, dan memiliki fadhilah diantaranya sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah di dalam haditsnya:
"Tidaklah duduk sekolompok orang berdzkir kepada Allah, melainkan mereka itu dikelilingi oleh malaikat dan diliputi oleh rahmat Allah, dan diturunkan atas mereka ketentraman kemudian mereka disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat yang berada disisiNya." (H.R. Muslim)
Ke tiga ziarah ke makam orang shalih adalah termasuk cara agar kita mendapatkan rahmat Allah, seperti berziarah ke makam para auliya, para sahabat dan makam Rasulullah, karena mereka adalah orang-orang yang dicintai Allah.
Ziarah kubur pada awalnya adalah perkara yang tidak diperbolehkan oleh Rasulullah karena Beliau kuatir ada kesalah fahaman dalam prakteknya, akan tetapi seiring berjalannya waktu Rasulullah membolehkan ziarah kubur agar manusia mengingat kematian dan akhirat, sehingga dapat melembutkan kerasnya hati.
Dari Buraidah, beliau berkata bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku pernah melarang berziarah kubur. Tapi sekarang Muhammad telah diberi izin untuk berziarah ke makam ibunya. Maka sekarang berziarahlah..! karena hal itu dapat mengingatkan kamu kepada akhirat." (H.R. At Tirmidzi)
Atas dasar perintah Rasulullah, maka ziarah kubur diperbolehkan di dalam Islam selama tidak menyimpang dari aqidah dan syari'at. Baik ziarah ke makam orangtua, makam para Anbiya, para sahabat, para Auliya maupun makamnya orang-orang shalih.
Berziarah ke makam orang shalih atau wali Allah berarti masuk kedalam tawashul, memohon kepada Allah melalui kemulian orang-orang yang dimuliakan dan dicintai oleh-Nya dan mengambil keberkahan, dan ini tidak dilarang dalam Islam.
Pembahasan tentang tawashul ataupun mengambil berkah dari orang-orang yang dicintai oleh Allah menjadi pembahasan yang kontroversial dewasa ini karena adanya ikhtilaf dari saudara-saudara kita yang memvonis bid'ah, namun apapun itu jangan sampai kita memvonis kafir bagi yang melakukannya karena konsekwensinya sangat fatal ketika menuduh oranglain kafir.
Ke empat i'tikaf, amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah sehingga i'itikaf ini hukumnya adalah sunah dan memiliki fadilah bagi yang mengerjakannya seperti hadits yang menyebutkan:
"Siapa yang berwudhu di rumahnya dengan wudhu yang baik kemudian ia datang ke masjid, maka orang ini adalah tamu Allah kemudian Allah memuliakan orang tersebut." (H.R. At Thabrani)
Allah memuliakan orang yang mendatangi masjid, maka berarti orang tersebut mendapatkan rahmat-Nya.
Ke lima membaca Al Qur-an termasuk amalan yang bisa mendatangkan rahmat berupa syafa'at bagi pembacanya, sebagaiman Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Bacalah Al Qur-an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafa'at bagi pembacanya." (H.R. Muslim)
Fadhilah Bagi yang Beriman Kepada Al Wahhab
Bagi seseorang yang beriman atas dasar benar-benar mengenal terhadap nama Allah Al Wahhab, maka orang tersebut memiliki sikap: ketika dia memberi sesuatu kepada oranglain, maka semata-mata karena Allah, tanpa mengharap surga atau sesuatu yang berhubungan dengan perkara duniawi.
Jadi bagi yang mengenal dan meneladani nama Allah Al Wahhab, maka orang tersebut akan senantiasa ikhlas dalam memberi termasuk dalam ibadah dan Allah sangat mencintai amalan hati yang ikhlas.
Penutup
Dengan mengetahui pengertian dan makna Al Wahab, semoga kita oleh Allah dimasukan ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan kelimpahan rahmatNya dan terhindar dari kesesatan aqidah karena mengenalNya sebagai Dzat yang memiliki nama Al Wahhab Yang Maha Pemberi, semoga bermanfa'at.

Belum ada Komentar untuk "Mengenal Al Wahhab Yang RahmatNya Melimpah"
Posting Komentar