Mengenal dan Meneladani Makna Al 'Alim Yang Maha Mengetahui
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ مَا يَكُوْنُ مِنْ نَّجْوٰى ثَلٰثَةٍ اِلَّا هُوَ رَا بِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ اِلَّا هُوَ سَا دِسُهُمْ وَلَاۤ اَدْنٰى مِنْ ذٰلِكَ وَلَاۤ اَكْثَرَ اِلَّا هُوَ مَعَهُمْ اَيْنَ مَا كَا نُوْا ۚ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Pengertian dan Makna Al 'Alim
Secara ringkas Al 'Alim bisa diartikan Yang Maha Mengetahui, sedangkan makna Al 'Alim kata ulama adalah Dia (Allah) Yang Mengetahui segala sesuatu dengan sebenar-benarnya, maka pengetahuan Allah itu meliputi segala hal, baik yang baru maupun yang terdahulu.
Bagi Allah baik sifat maupun perbuatanNya itu Qodim tak ada sesuatu yang mendahuluiNya termasuk pengetahuan Allah, Dia sudah mengetahui segala sesuatu sebelum adanya sesuatu itu karena Dialah yang menciptakan dan merencanakan segala sesuatu.
Bagi Allah tidak ada sesuatupun yang tersembunyi yang luput dari pengetahuanNya, baik yang dzhahir maupun yang batin, kecil maupun besar, awal maupun akhir, secara terperinci jumlahnya, maka dengan Maha Mengetahui Allah terhadap segala sesuatu, Dia Maha Teliti/waspada dan Maha Menyaksikan yang pembahasannya nanti di nama Al Khabir dan As Syahid.
Allah tidak butuh bantuan apapun atau dari siapapun untuk mengetahui segala sesuatu, baik yang dzhahir maupun batin karena mengetahuinya Allah itu dengan DzatNya yang Maha Mengetahui, Dia tidak butuh fungsi indrawi atau selainnya karena Allah bukan makhluq yang butuh kepada yang lain. Allah tidak ada sesuatu yang semisal dengan Dia.
Allah Maha Mengetahui Maksiatnya Mata dan Hati
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
يَعْلَمُ خَآئِنَةَ الْاَ عْيُنِ وَمَا تُخْفِى الصُّدُوْرُ
Tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuan Allah, sehingga kelak ketika amal manusia dihisab tak ada seorang pun yang bisa menyangkal karena Allah tak hanya mengetahui perkara yang dzhahir saja, tapi Dia juga mengetahui perkara yang batin seperti isi hati manusia.
Allah Maha Mengetahui Perkara yang Ghaib
Perkara yang ghaib adalah sesuatu yang belum terlihat dan belum terjadi seperti kiamat atau ketetapan Allah berupa qodho dan qodar dan lain-lain, hanya Allah yang mengetahui itu semua.
5 Perkara Ghaib yang Hanya Allah Yang Maha Mengetahui
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
اِنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗ عِلْمُ السَّا عَةِ ۚ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْاَ رْحَا مِ ۗ وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّا ذَا تَكْسِبُ غَدًا ۗ وَّمَا تَدْرِيْ نَـفْسٌ بِۢاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ
1. Hari Kiamat
Hari kiamat adalah kejadian yang luar biasa yang hanya Allah yang mengetahui kapan terjadinya, bahkan para malaikat dan para Rasul pun tidak mengetahuinya.
2. Turun Hujan
Hujan adalah Allah yang menciptakan dan menetapkan kapan dan dimana turunnya bahkan setiap tetes dan volume air yang jatuh ke bumi tidak luput dari kehendak dan ketetapanNya, adapun manusia hanya sebatas menebak-nebak tidak bisa memastikan dan menentukan.
3. Keadaan Bayi Dalam Rahim
Allah Maha Mengetahui keadaan bayi dalam rahim seorang ibu, apakah dia laki-laki ataukah perempuan, apakah fisiknya sempurna ataukah cacat, sekalipun manusia bisa mengetahui jenis kelamin bayi menggunakan USG tapi sesungguhnya Allah lah yang menentukan dan menetapkan.
4. Kejadian Esok Hari
Ikhtiar manusia hari ini hanyalah sebatas menjalankan sebab bukan menentukan hasil karena hasil dari ikhtiar manusia hanya Allah yang mengetahui dan yang menentukan, sehingga dalam Islam tawakal dalam berikhtiar itu harus agar jangan samapai meniadakan peran Allah.
5. Tempat Terakhir Ketika Manusia Mati dan Dikuburkan
Kematian termasuk ketetapan Allah yang tidak ada seorang pun mengetahui kapan dan dimana dia mati, apakah di darat atau di laut/air, ataukah di udara. Apakah di kampung kelahirannya, ataukah di kota lain, ataukah di negara laian. Apakah dia mati dengan husnul khotimah ataukah dengan su'ul khotimah. Manusia hanya bisa berharap dan memohon kepada Allah agar mati dengan husnul khotimah.
Allah Mengetahui Segala Sesuatu dengan Sebenar-benarnya
وَعِنْدَهٗ مَفَا تِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَاۤ اِلَّا هُوَ ۗ وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ ۗ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَ رْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَا بِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ
"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)." (QS. Al-An'am Ayat 59, terjemah bebas: Kementrian Agama RI)
Pengetahuan Allah terhadap segala sesuatu adalah mutlak tanpa ada pengecualian dan tanpa ada batasan karena Allah tidak diliputi oleh sesuatu apapun, maka Dia haq disebut Al 'Alim.
Sikap dan Fadhilah Bagi yang Mengenal dan Beriman Kepada Al 'Alim
Bagi seseorang yang beriman atas dasar mengenal Allah Al 'Alim, maka pada diri orang tersebut kata ulama akan memiliki sikap dan fadhilah sebagai berikut:
- Dia akan merasa cukup dengan mengetahuinya Allah pada saat dia menjalankan ta'at. Jadi, segala amal ibadah yang dia kerjakan cukup Allah yang mengetahui, ingin tampil hanya untuk Allah dalam melaksanakan ta'at bukan ingin diketahui manusia lainnya.
- Dia bekerja sepanjang hidupnya dengan urusan ilmu. Yang dikerjakannya selalu berhubungan dengan ilmu, membekali usahanya dengan ilmu, terutama ilmu tentang agama, agar ibadahnya syah dan diterima oleh Allah.
- Dia akan selamat dari perbuatan riya, karena riya adalah perbuatan seseorang yang tidak merasa cukup jika Allah saja yang mengetahui apa yang dilakukannya.
Penutup
Sebagai penutup ada kutipan dari sayidina Ali karamallhu wajhah di dalam kitab Ihya Ulumu Ulumuddin karya imam Ghazali yang menyebutkan ciri-ciri orang yang riya sebagai berikut:
- Dia merasa malas beribadah ketika sendirian, tapi rajin dan semangat ketika ada manusia lain.
- Dia akan bertambah amalnya apabila disanjung dan berhenti ketika ada yang mencela.
Dari ciri-ciri yang disebutkan oleh sayidina 'Ali tadi adalah orang yang peduli dengan penilain manusia terhadap amal baiknya, bukan karena ingin dinilai oleh Allah.
Dengan mengetahui pengertian dan makna Al 'Alim semoga bertambah keimanan kita untuk meningkatkan ibadah semata-mata hanya karena Allah bukan ingin dinilai oleh orang lain dan memotivasi agar mau belajar, dan selemah-lemahnya adalah mencintai mereka yang mengajar dan belajar ilmu.
Karena Rasulullah memerintahkan umatnya agar menjadi seorang yang faham dan mengajar ilmu ('Alim), jika tidak maka jadilah orang yang belajar ilmu (Muta'alim), jika masih tidak bisa maka jadilah orang yang suka mendengarkan kajian ilmu di majlis ilmu, jika masih juga tidak bisa maka jadilah orang yang mencitai mereka, tapi jangan menjadi orang yang ke lima bukan 'Alim, juga bukan seorang Muta'alim, malas hadir di majlis ilmu dan membenci mereka.
Semoga bermanfaat.
.png)
Belum ada Komentar untuk "Mengenal dan Meneladani Makna Al 'Alim Yang Maha Mengetahui"
Posting Komentar