Memahami dan Meneladani Makna Al Quddus - Gambar sampul postingan

Memahami dan Meneladani Makna Al Quddus

Di urutan ke 5 dari 99 Asmaul Husna ada nama Al Quddus. Al Qudus maupun nama-nama Allah yang lainnya bukanlah nama pemberian manusia, tapi dari Allah yang kemudian disampaikan kepada manusia melalui hadits Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam agar manusia mengenal Tuhannya dengan sebenar-benarnya yang memiliki sifat maupun perbuatan yang tidak dimiliki oleh makhluq. 

Lalu, apa sih pengertian dan makna dari Al Quddus? 

Nah, untuk itu berikut ini akan saya sampaikan arti dan maknanya berdasarkan penjelasan ulama dengan mengambil rujukan kaulnya imam Ghazali di dalam kitab Al Maqshadul Asna.

Ilustrasi Asmaul Husna Al-Quddus: Allah Maha Suci

Pengertian Al Quddus 

Al Quddus artinya Yang Maha Suci, sebagaimana disebutkan di dalam Al Qur-an, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:  

هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِى لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْمَلِكُ ٱلْقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلْمُؤْمِنُ ٱلْمُهَيْمِنُ ٱلْعَزِيزُ ٱلْجَبَّارُ ٱلْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ 

"Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Maha Merajai, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." (QS. Al Hasyr: 23). 


Makna Nama Al Quddus 

Berdasarkan penjelasan imam Ghazali di dalam kitab Al Maqshadul Asna, makna nama Al Quddus adalah Dialah Yang Maha Suci DzatNya, sifatNya dan perbuatanNya dari tiap-tiap yang tidak layak dengan KebesaranNya, kesempurnaanNya dan keelokanNya. 

Allah suci dari perbuatan mengambil faidah, suci dari segala sifat gambaran yang dapat dijangkau oleh panca indera, tergambar dalam hayalan, terlintas dalam dugaan atau terbersit dalam hati maupun fikiran. 

Berikut ini makna dari Al Quddus, baik dalam Nama, Sifat maupun perbuatanNya.


Maha Suci Allah Dari Butuh Kepada yang Lain 

Allah tidak memiliki kepentingan apapun di dalam perbuatanNya, tidak mengharap apapun dari makhluqNya, apa yang Allah perbuat adalah untuk kebaikan makhluqNya, tidak mengambil manfaat, dan tidak merasa rugi meski seandainya semua manusia maupun jin tidak beriman kepadaNya.

Sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan Abu Dzaar Al Ghifari, bahwa Rasulullah menyampaikan firman Allah:

يا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

"Wahai hamba-hambaKu, jika orang-orang sebelum kalian dan yang terakhir di antara kalian, baik semua manusia maupun jin yang sama ta'atnya/saleh dengan hati siapa pun di antara kamu semua, maka tidak akan menambah kebesaran kerajaanKu sedikitpun." 

"Wahai hamba-hambaKu, jika orang-orang sebelum kalian dan yang terakhir di antara kalian, baik semua manusia maupun jin yang sama durhakanya dengan hati siapa pun diantara kalian semua, maka tidak akan mengurangi kebesaran kerajaanKu sedikitpun." 

Allah tidak diuntungkan atas keimanan hamba-hambaNya dan tidak dirugikan atas kedurhakaan hamba-hambaNya. 

Maha Suci Allah dari butuh atau mengharap sesuatu dari makhluqNya, tiap-tiap amal yang dikerjakan hambaNya akan kembali kepada diri mereka masing-masing. 


Maha Suci Allah Dari yang Menciptakan 

Keberadaan Allah tidak diciptakan karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Jika Allah diciptakan atau butuh kepada yang menciptakan berarti keberadaan Allah disertai permulaan sedangkan adanya permulaan pada Dzat Allah adalah hal yang Mustahil karena Allah bukanlah makhluq. 


Maha Suci Allah Dari Perkara Mumkin 

Keberadaan Allah adalah wajibul wujud yaitu yang ketidak beradaanNya tidak bisa diterima oleh akal karena banyaknya bukti yang menunjukan bahwa Allah itu ada seperti adanya alam dan isinya termasuk kita di dalamnya adalah Allah yang menciptakan, akal menolak jika Allah tidak ada, maka Allah itu harus ada. 

Sedangkan perkara mumkin atau sesuatu yang bisa saja ada atau tidak ada, hanya pantas untuk makhluq karena keberadaan makhluq itu tidak wajib, Allah tidak memiliki kewajiban mencipta, mengadakan atau meniadakan sesuatu karena Dia Maha Berkehendak dan Maha Kuasa. 


Maha Suci Allah Dari Sesuatu yang MenyerupaiNya 

Allah bukan sesuatu, bukan sosok dan tidak seperti apapun yang bisa ditangkap oleh fikiran maupun fungsi indrawi. Maha Suci Allah dari sangkaan fikiran manusia yang terbiasa dengan gambaran makhluq karena tidak ada yang semisal denganNya satu perkara pun. 


Maha Suci Allah Dari Sesuatu yang Bersusun 

Allah itu Maha Tunggal, baik Dzat, sifat maupun perbuatanNya. Dzat Allah bukan sesuatu yang susun dari beberapa bagian karena Allah bukan makhluq yang memiliki anatomi tubuh, Maha Tunggalnya Allah itu haqiqi. 

Allah bukanlah sosok yang berbentuk yang terdiri dari bagian anggota tubuh. Allah tidak berbentuk layaknya makhluq yang memiliki kekurangan dan keterbatasan, karena akal tidak akan mampu menjangkau Dzat Allah yang Maha Suci. 

Oleh karena akal tidak bisa menjangkau Dzat Allah, maka memikirkan Dzat Allah itu haram menurut hukum syari'at. Adapun yang harus ditafakuri yaitu asma, sifat dan af'alNya (perbuatanNya). 


Maha Suci Allah Dari Bertempat 

Sesuatu yang ditempati karena sesuatu itu dibutuhkan, sedangkan Allah tidak butuh kepada apapun termasuk tempat, Allah tidak butuh kepada tempat. 

Jika Allah bertempat maka tempat yang ditempati oleh Allah sebelumnya itu dimana? 

Maka bertempat bagi Allah adalah mustahil dan tidak pantas bagiNya karena hanya makhluq yang butuh kepada tempat. Allah bukan di atas, di bawah, di sisi kiri atau kanan, bukan pula di depan ataupun belakang. 

Jika seseorang berfikir bahwa keadaan Allah itu bertempat maka orang tersebut menggambarkan keberadaan Allah seperti makhluq, sedangkan memikirkan Dzat Allah dan menyetarakanNya dengan makhluq adalah haram. 

Allah itu ada dan keberadaan Allah tidak semisal dengan apapun.

Allah ada sebelum diciptakannya qolam, Allah ada sebelum diciptakannya lauhul mahfudhz, Allah ada sebelum diciptakannya Arsy, Allah ada sebelum diciptakannya kursi, Allah ada sebelum alam jagad raya beserta isinya diciptakan, dan keberadaan Allah tidak diliputi zaman baik sejak zaman azali Allah tidak ada permulaan bagiNya, maupun saat ini dan hari kiamat keberadaan Allah tidak berubah, tidak butuh kepada tempat dan tidak butuh kepada yang lain.


Maha Suci Allah Dari Jangkaun Panca Indera

Allah bukan sesuatu yang bisa dilihat, didengar, dicium, diraba dan dikecap oleh fungsi inderawi, meski Allah menghendaki seorang hamba untuk bisa menyaksikan DzatNya bukan berarti Allah disaksikan oleh mata.


Maha Suci Allah Dari Sifat Bodoh dan Lemah 

Pengetahuan (Ilmu) Allah meliputi segala sesuatu karena tidak ada sesuatupun yang luput dari pengetahuanNya, baik yang dhzohir maupun yang batin. 

Ilmu Allah jauh lebih luas daripada luasnya samudera, bahkan pengetahuan yang Allah anugerahkan kepada makhluq hanyalah setitik dari Maha Luasnya Ilmu Allah. 

Perbuatan Allah tidak sepi dari rahasia dan hikmah, sehingga bila kita perhatikan dengan seksama ternyata apa yang telah Allah perbuat itu tidak ada yang tidak seimbang, semuanya saling berkaitan dan saling menopang. 

Apa yang Allah perbuat semuanya untuk kebaikan makhluqNya. 

Dilihat dari sudut pandang manapun, perbuatan Allah itu selalu relevan, sehingga bagi orang yang selalu memperhatikan perbuatanNya (tafakur) dia akan menemukan keadaan dirinya yang payah, silau oleh keindahan hadhrat rububiyyah dan terheran-heran oleh keseimbangan dan keteraturan dari af'al Allah. Penjelasan lebih lanjutnya insya Allah akan saya posting dalam pembahasan nama Al 'Adl. 


Maha Suci Allah Dari Sifat Terpaksa 

Allah jika berbuat yaitu dengan kehendakNya, tanpa ada paksaan atau terpaksa, sehingga segala yang sudah Allah tetapkan tidak ada yang bisa menolaknya, bahkan dengan ikhtiar do'a. 

Kehendak Allah itu azali, ada sebelum alam semesta diciptakan, adapun dikabulnya do'a adalah bagian dari kehendak Allah bukan usaha manusia untuk merubah takdir Allah yang tidak sepi daripada hikmah bagi mereka yang mau berfikir dan mengambil pelajaran. 

Kehendak Allah bisa saja bersambungan dengan ikhtiar manusia, seperti tercapainya hajat seseorang dengan disertai do'a yang mana do'a dan hasilnya itu sebenarnya bagian dari kehendak Allah. 

Apa yang menjadi kehendak Allah di dalamnya ada ridho atau murkaNya, maka dengan sifat Pemurah dan PenyayangNya manusia dikaruniakan akal oleh Allah untuk bisa memilih jalan yang terbaik untuk dirinya agar selamat di dunia dan di akhirat. 


Maha Suci Allah Dari Sifat Berubah 

Keberadaan Allah selamnya tidak berubah, kuasa Allah tidak berubah gara-gara Dia berkendak, atau kehendak Allah tidak berubah karena sifatNya yang lain dan seterusnya. 

Sifat-sifat yang ada pada DzatNya itu senantiasa, seperti sifat-sifat ma'ani pada Dzat Allah, begitupu dengan sifat nafsiahNya. Keberadaan Allah tidak berubah dari ada menjadi tidak ada, dan tidak ada sesuatu apapun yang bisa mencegah kehendakNya. 


Maha Suci Allah Dari Sifat Lupa dan Lalai 

Allah senantiasa memperhatikan, memelihara dan menguasai semua makhluq, semua makhluq tak ada yang luput dari pengetahuan dan pengawasanNya karena Dia adalah Al Khobir "Yang Maha Waspada". 


Maha Suci Nama Allah Dari Hasil Rekaan Manusia 

Nama Allah dan nama-namaNya yang lain yang disebutkan di dalam asmaul husna bukanlah pemberian manusia tapi dari Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. 

Seperti yang disebutkan di dalam Al Qur-an surat Ar Ra'du ayat 16 Allah berfirman: 

 قُلْ مَنْ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ قُلِ اللّٰهُۗ 

Katakanlah (Nabi Muhammad), "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Katakanlah, "Allah." 

Begitupun nama-namaNya yang lain adalah berdasarkan wahyu yang kemudian disampaikan oleh Rasulullah. 


Maha Suci Allah Dari Perbuatan yang Bathil, Mengambil Faedah dan Perbuatan Jahat 

Bathil itu perbuatan yang sia-sia tanpa faedah, dan apa yang Allah ciptakan itu tidak ada yang sia-sia semuanya memiliki rahasia dan hikmah sebagai lahan tafakur kita untuk meningkatkan keimanan. 

Allah menciptakan sesuatu tanpa butuh kepada yang Dia ciptakan, semua manfaat kembali kepada makhluqNya karena Allah tidak butuh apapun dari makhluq. 

Apa yang Allah perbuat dan Allah tetapkan atas makhluq adalah untuk kebaikan makhluq itu sendiri, hukum Allah tidak dhzolim karena sesungguhnya Allah Maha Pemurah. Yang dhzolim itu mereka yang tidak ta'at karena sesungguhnya mereka mendhzolimi diri sendiri.


Allah Mensucikan Hati Para Ahli Ibadah 

Al Qudus juga memiliki makna, bahwa Allah yang mensucikan hati para ahli ibadah dari pada hal-hal yang bertentangan denganNya. 

Jadi, kaitannya dengan makhluq, Allah mensucikan hati hamba-hambaNya yang beriman dan ta'at kepadaNya dengan menjauhkan mereka dari maksiat dan perbuatan tercela yang bisa menghanguskan amal ibadah mereka. 


Fadhilah Mengenal Al Quddus 

Adapun fadhilah dan sikap bagi seseorang yang beriman kepada Al Auddus kata imam Ghazali yaitu sebagai berikut: 

  1. Dia akan senantiasa mensucikan keberadaanNya (DzatNya), sifatNya dan perbuatanNya dari yang tidak pantas, karena bagi mu'min mensucikanNya adalah wajib. 
  2. Dia akan berusaha mensucikan anggota tubuhnya dari perbuatan maksiat dengan bertaubat dan mensucikan batinnya dari sifat-sifat tercela dengan melatih diri (riyadhoh) dan berjuang melawan hawa nafsu (mujahadah).


Penutup

Demikianlah arti dan makna nama Al Quddus, dengan kita mengetahui arti dan maknanya semoga Allah memberi kita hidayah dan taufik sehingga meningkatlah keimanan kita dan Allah memudahkan kepada kita untuk bisa merasakan buah dari beriman kepada Allah Al Quddus.

Semoga bermanfaat.


Share
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

Belum ada Komentar untuk "Memahami dan Meneladani Makna Al Quddus"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel