Makna Al Khafidh dan Ar Rafi': Penentu Tinggi Rendah Derajat Manusia di Sisi Allah - Gambar sampul postingan

Makna Al Khafidh dan Ar Rafi': Penentu Tinggi Rendah Derajat Manusia di Sisi Allah

Apakah anda pernah berpikir, mengapa seseorang yang dianggap mulia dan dihormati banyak orang justru bisa memiliki derajat yang rendah di sisi Allah? 

Atau sebaliknya, orang yang tampak biasa bahkan dianggap rendah oleh manusia, bisa jadi memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hadapan-Nya? 

Rahasianya terletak pada dua nama Allah yang penuh hikmah: Al Khafidh dan Ar Rafi'. 

Pengertian Al Khafidh dan Ar Rafi' 

Menurut Ulama Secara harfiah, Al Khafidh berarti Yang Merendahkan, sedangkan Ar Rafi' berarti Yang Meninggikan. Imam Ghazali menjelaskan bahwa Al Khafidh merendahkan orang-orang kafir dengan azab dan kesusahan, sementara Ar Rafi' meninggikan orang mukmin dengan kebahagiaan dan nikmat. 

Sebagian ulama juga memberikan makna yang lebih luas: 

Al Khafidh: Dia yang merendahkan kebathilan dan setiap orang yang mengikuti jalan yang salah. ​

Ar Rafi': Dia yang meninggikan kebenaran dan mereka yang selalu berada pada jalan yang benar. 

Allah memiliki kuasa mutlak untuk mengubah derajat manusia. Bahkan, manusia bisa jadi lebih rendah dari binatang jika tidak menggunakan akalnya untuk beriman dan menjauhi perbuatan maksiat. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Furqan [25:44]: 

"Atau apakah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu hanyalah seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat jalannya." 

Ayat ini ditujukan kepada musuh Allah yang memusuhi Rasul-Nya, seperti Fir'aun yang menjadi contoh nyata sosok yang tinggi di dunia tapi rendah di sisi Allah. 

Sebaliknya, orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan bisa memiliki derajat yang lebih tinggi dari malaikat. QS. Al-Bayyinah [98:7] menyatakan: 

"Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk." 

Ulama ahli tafsir menjelaskan bahwa frasa "sebaik-baik makhluk" merujuk pada tingginya derajat mereka di sisi Allah, seperti yang dimiliki oleh sahabat-sahabat pilihan Rasulullah. 

Penjelasan lengkap makna Alkhafidh dan Ar-Rafi'

Tinggi Rendah Derajat Tidak Selalu Tampak di Dunia 

Terkadang, tingginya derajat seorang hamba di sisi Allah tidak tampak oleh manusia. Contohnya adalah Uwais Al Qorni—walaupun tidak pernah bertemu Rasulullah karena sibuk merawat ibunya yang lumpuh, derajatnya sangat tinggi di sisi Allah. Hanya ketika Sayidina Umar dan Sayidina Ali datang meminta doanya atas perintah Rasulullah, orang-orang baru menyadari bahwa dia adalah seorang wali Allah. 

Dalam riwayat Shahih Bukhari juga diceritakan, Rasulullah melihat dua orang laki-laki yang lewat. Sahabat menganggap orang pertama sebagai sosok mulia yang dihormati banyak orang, sedangkan orang kedua dianggap tidak penting. Namun, Rasulullah bersabda bahwa orang kedua itu lebih baik dari sepuluh bumi orang seperti yang pertama—seperti halnya Abu Dzar Al-Ghifari atau Ibnu Mas'ud yang hidup sederhana tapi memiliki derajat tinggi di sisi Allah. 

Riwayat Shahih Muslim juga menyampaikan sabda Rasulullah: 

"Banyak orang yang usang, rambutnya berdebu, pakaiannya lusuh, andai dia ada tidak dianggap keberadaannya, andai dia tidak ada, maka tidak dicari, tetapi orang itu jika bersumpah kepada Allah, maka Allah mengabulkan sumpahnya." 

Bahkan, ada orang yang dipuja-puja di seluruh dunia tapi tidak berharga seberat sayap nyamuk di sisi Allah—seperti Fir'aun bin Haman yang memiliki kekuasaan besar tapi menyombongkan diri dan menyiksa umat beriman. Ini menunjukkan bahwa pandangan manusia bukanlah patokan akhir tentang tingginya derajat seseorang—semuanya berada dalam kekuasaan Al Khafidh dan Ar Rafi'.


Empat Kategori Derajat Manusia Menurut Ulama 

Ulama mengkelompokkan tinggi rendahnya derajat manusia menjadi empat kedudukan, dengan penjelasan, contoh, dan pelajaran praktis sebagai berikut:     

Tinggi di Dunia dan di Sisi Allah 

Mereka adalah para pemimpin yang adil yang menjalankan syariat dengan benar, serta orang kaya yang bersyukur dan menggunakan hartanya di jalan Allah. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menjadi contoh terbaik dalam kategori ini. 

Mengapa Tinggi di Dunia? 

Sebagai khalifah kedua umat Islam, ia dihormati dunia karena keadilan dan kesetiaan. Ia berhasil memperluas wilayah Islam dari Mesir hingga Persia dengan cara yang bijaksana, membangun sistem pemerintahan terstruktur, termasuk kepustakaan, masjid, dan jalan raya yang bermanfaat masyarakat. 

Ia selalu memastikan rakyat mendapatkan perlindungan tanpa memandang agama atau suku. 

Mengapa Tinggi di Sisi Allah? 

Ia memiliki keimanan yang kuat, selalu memulai keputusan dengan berdoa dan merujuk pada Al-Qur'an serta Sunnah. 

Meskipun memiliki kekuasaan besar, ia tetap hidup sederhana dan tidak pernah menggunakan jabatan untuk kepentingan pribadi. Ia menyatakan bahwa "Khalifah adalah pelayan bagi rakyat" dan selalu memastikan orang miskin, yatim piatu, dan janda mendapatkan hak mereka. 

Pelajaran Praktis untuk Kehidupan Sehari-Hari 

  • Jika anda memiliki jabatan atau kedudukan, gunakanlah untuk membantu orang lain dan menjalankan keadilan, bukan untuk mengejar kesenangan pribadi.
  •  ​Jika anda memiliki kekayaan, bagikan sebagian untuk kemaslahatan—bantu teman yang kesusahan, sedekahkan kepada orang yang membutuhkan, atau ikut dalam kegiatan sosial yang bermanfaat. ​
  • Selalu pertimbangkan dampak dari setiap keputusanmu terhadap orang lain, dan jangan pernah membedakan orang berdasarkan status atau latar belakang.

Tinggi di Sisi Allah tapi Rendah di Dunia 

Ini adalah orang-orang faqir yang sabar dan ridho dengan takdir Allah. Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu dan Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah contoh utama dalam kategori ini. Mengapa Rendah di Dunia? Abu Dzar hidup sangat sederhana, mengenakan pakaian lusuh dan tidak memiliki harta banyak meskipun ada kesempatan untuk mendapatkannya. 

Ia menolak jabatan penting dengan gaji besar karena takut akan jauh dari Allah, dan terkadang dikucilkan karena selalu mengatakan yang benar. 

Ibnu Mas'ud juga hidup sederhana dan tidak dikenal oleh banyak orang awam karena tidak mencari pujian dunia. 

Mengapa Tinggi di Sisi Allah? 

Abu Dzar memiliki kesetiaan yang tak tergoyahkan pada Rasulullah dan ajaran Islam, selalu berada di barisan depan perang dan siap mengorbankan diri. Rasulullah bersabda bahwa ia akan duduk di atas kursi emas di surga. 

Ibnu Mas'ud adalah ahli Al-Qur'an terbaik zamannya dengan pemahaman agama yang mendalam dan hati yang tulus pada Allah. 

Pelajaran Praktis untuk Kehidupan Sehari-Hari 

  • Jangan terlalu terpaku pada kemewahan dunia atau pencarian pujian orang lain—fokuslah pada hubunganmu dengan Allah dan kebaikan yang kamu lakukan. ​
  • Jika anda hidup dalam kondisi ekonomi yang terbatas, bersabarlah dan ridho dengan takdir Allah. Gunakan kesempatanmu untuk lebih dekat dengan agama dan berbagi kebaikan sesuai dengan kemampuanmu. ​
  • Jangan takut untuk mengatakan yang benar, meskipun itu tidak populer atau membuatmu tidak disukai oleh sebagian orang. Lakukan dengan cara yang baik dan penuh hikmah.

Tinggi di Dunia tapi Rendah di Sisi Allah 

Mereka adalah para pemimpin yang zalim dan orang kaya yang bakhil. Fir'aun bin Haman adalah contoh klasik dalam kategori ini. 

Mengapa Tinggi di Dunia? 

Sebagai raja Mesir kuno, ia memiliki kekuasaan mutlak dan dianggap sebagai tuhan oleh rakyatnya. Ia kaya raya, memiliki kekuatan militer besar, membangun piramida dan bangunan megah, serta menguasai wilayah luas dengan banyak harta dan budak. 

Mengapa Rendah di Sisi Allah? 

Ia menyombongkan diri, mengklaim dirinya sebagai Tuhan, dan menolak ajaran Nabi Musa 'alaihissalam. Ia menyiksa orang-orang Bani Israil dengan cara kejam, seperti melempar bayi laki-laki ke sungai Nil dan membuat mereka bekerja seperti budak. 

Meskipun melihat banyak mukjizat, ia tetap menolak beriman dan mencoba membunuh Nabi Musa serta pengikutnya. 

Pelajaran Praktis untuk Kehidupan Sehari-Hari 

  • Jangan biarkan kekuasaan atau kekayaan membuat kita sombong atau melupakan Allah. Ingatlah bahwa semua yang kamu miliki adalah titipan dari-Nya. ​
  • Jangan gunakan kekuatan atau kekayaan untuk menyakiti atau menindas orang lain. Selalu berusaha untuk berlaku adil dan kasih sayang.
  • Jangan menolak kebenaran hanya karena tidak sesuai dengan keinginanmu. Selalu terbuka untuk belajar dan memperbaiki diri.   

Rendah di Dunia dan di Sisi Allah 

Ini adalah orang-orang yang tidak ridho dengan kondisi hidupnya dan memiliki sifat angkuh, serta pelaku kejahatan dan kemaksiatan. 

Mengapa Rendah di Dunia? 

Mereka selalu mengeluh, menyalahkan orang lain atau Allah atas kesusahan, dan menunjukkan sikap angkuh meskipun tidak memiliki prestasi apa-apa. Beberapa di antaranya melakukan kebohongan, mencuri, atau menyakiti orang lain, sehingga membuat orang lain tidak menyukai atau menghargainya. 

Mereka sering menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan tidak berusaha meningkatkan diri. 

Mengapa Rendah di Sisi Allah? 

Mereka kurang memiliki keimanan dan kesabaran, tidak mau menerima takdir yang telah ditetapkan Allah, dan tidak berusaha memperbaiki diri dengan beribadah atau mengerjakan kebajikan. 

Mereka melakukan perbuatan bathil tanpa rasa bersalah atau niat untuk bertaubat, serta merasa lebih baik dari orang lain padahal semua manusia diciptakan sama di sisi Allah. 

Pelajaran Praktis untuk Kehidupan Sehari-Hari 

  • Terima kondisi hidupmu dengan ikhlas dan bersabarlah. Jika ada hal yang bisa kamu ubah, usahakan untuk memperbaikinya dengan cara yang benar. Jika tidak, fokuslah pada hal-hal positif yang kamu miliki. 
  • Hindari sikap angkuh dan selalu hormati orang lain—setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. 
  • Jauhi perbuatan yang salah dan segera bertaubat jika kamu melakukan kesalahan. Mulailah melakukan kebaikan kecil setiap hari, seperti menyapa orang dengan ramah, membantu teman, atau membaca Al-Qur'an secara teratur.


Keutamaan dan Sikap Orang yang Beriman Kepada Al Khafidh dan Ar Rafi' 

Bagi orang yang benar-benar mengenal dan beriman kepada Al Khafidh dan Ar Rafi', maka kata ulama orang tersebut memiliki keutamaan dan sikap sebagai berikut: 

  • Dia mesti merendahkan kebathilan dan orang-orang yang bathil, bukan malah sebaliknya mengagungkan dan memuliakan mereka. Hal ini sesuai dengan sifat Allah Al Khafidh yang selalu merendahkan segala bentuk kesalahan dan kejahatan. ​
  • Dia mesti meninggikan kebenaran dan orang-orang yang benar serta menegakkan kebenaran. Ini merupakan wujud penghormatan terhadap sifat Allah Ar Rafi' yang selalu mengangkat kedudukan kebenaran dan mereka yang berada di jalan yang benar. ​
  • Dia juga mesti memusuhi musuh-musuh Allah, agar direndahkan derajatnya, dan mendekati serta mencintai para kekasih Allah, agar ditinggikan derajat mereka. Sikap ini menunjukkan kesadaran bahwa derajat yang sebenarnya ditentukan oleh hubungan dengan Allah dan kesetiaan pada ajaran-Nya. 


Dengan mengetahui makna dari Al Khafidh dan Ar Rafi', maka semestinya kita berharap semoga Allah memberi kita hidayah dan taufik agar bisa benar-benar mengenal dan beriman kepada nama-Nya Al Khafidh dan Ar Rafi' sehingga kita dianggap sebagai hamba-Nya yang dimuliakan di sisi-Nya bukan hamba yang dimurkai. 

Semoga artikel ini bermanfaat.

Share
Tampilkan Komentar
Sembunyikan Komentar

Belum ada Komentar untuk "Makna Al Khafidh dan Ar Rafi': Penentu Tinggi Rendah Derajat Manusia di Sisi Allah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel