Makna Al Malik dan Fadhilah Mengenal Maha Merajainya Allah
Al Malik adalah nama Allah yang hanya Dia yang haq memilikinya yang merupakan bagian dari 99 namaNya yang baik dan agung, yang disebutkan di urutan ke lima di dalam hadits Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam, dan 99 nama Allah ini kita sebut Asmaul Husna.
Al Malik adalah nama yang mutlak bagi Allah karena Dialah yang Maha Menguasai seluruh alam, dan tak ada sesuatupun yang di luar kepemilikan dan kuasaNya, dan kuasa Allah tidak ada batasnya maupun kekurangan.
Berikut ini penjelasan dari nama Allah Al Malik, berdasarkan penjelasan Ulama dengan mengambil rujukan kaul imam Ghazali di dalam kitab Al Maqshadul Asna.
Pengertian Al Malik
Makna Nama Al Malik
Al Malik adalah Dia pemilik segala sesuatu tanpa ada batasan yang membatasiNya. Dialah yang Dzat dan sifatNya tidak butuh kepada maujud (makhluq) dan semua maujud butuh padaNya, semua maujud tunduk padaNya.
Alam jagad raya beserta isinya termasuk kita di dalamnya adalah milik Allah sepenuhnya karena Dialah yang menciptakan dan menguasai segala sesuatu. Allah memperlakukan semua ciptaanNya sesuai dengan kehendakNya tidak ada keterpaksaan dan paksaan, semua terserah Allah.
Dia menetapkan sesuatu tanpa ada yang bisa menolaknya. Dia yang berhak memberikan kerajaan kepada seseorang dan mencabutnya, memuliakan dan menghinakan seseorang dengan kehendakNya.
Al Malik adalah Yang Maha Merajai, Raja dari segala raja, Dialah raja yang sebenar-benarnya.
Gelar Raja yang Dinisbatkan Kepada Manusia
Ketika ada seseorang yang dianggap raja dalam suatu kaum atau negara, maka sebutan raja bagi dia hanya sekedar ungkapan karena dia tidak punya kekuasaan mutlak yang tidak bisa dibandingkan dengan Allah Yang Maha Merajai.
Meski seseorang disebut raja, tapi sebenarnya dia lemah karena dia hanyalah makhluq yang masih butuh kepada yang lain, memiliki sifat kekurangan dan keterbatasan.
Seorang raja akan berakhir masa jabatannya entah karena digantikan oleh oranglain atau wafat, sehingga masa kekuasaan dia berakhir dan beralih kekuasaan.
Berbeda dengan Allah ketika disebut Raja karena Dialah raja yang sebenar-benarnya, yang kekuasaanNya mutlak tidak butuh kepada yang lain dan kekuasaanNya tidak tergantikan.
Selamanya Allah Maha merajai, bahkan ketika alam semesta ini musnah Allah tetap Maha Merajai, karena Dialah satu-satunya Yang Maha Merajai bagi seluruh makhluq dan Maha Merajai hari kiamat.
Ketika seseorang sungkan terhadap rajanya, maka berbeda dengan Allah Yang Maha Merajai Dia malah menyuruh agar manusia dekat denganNya, Allah sangat senang terhadap hamba-hambaNya yang dekat denganNya.
Menjauhnya Seseorang Dari Al Malik Karena Lemahnya Akal
Seorang raja pasti menemui ajal dan digantikan oleh raja yang baru, ketika raja yang baru berkuasa maka berubahlah kebijakan-kebijakan sebelumnya, bahkan bisa jadi mereka yang dekat dengan raja yang sebelumnya akan disingkirkan.
Kekuasaan Allah tidak akan berpindah karena tidak ada yang bisa menggantikan Maha Kuasa dan Maha Merajainya Allah karena Allah itu kekal, sehingga bagi orang-orang yang dekat denganNya akan senantiasa aman dan selamat.
Orang-orang yang sukanya menjilat para penguasa dan menjauhi Allah sebagai penguasa dan raja yang sebenarnya tak ubahnya dengan anak kecil yang memiliki akal yang lemah.
Anak kecil hanya menyukai mainan, menyukai benda-benda yang menyerupai dengan benda aslinya padahal yang mereka sukai adalah palsu, bukan sungguhan.
Sama halnya dengan orang yang mendekati penguasa dan menjauhi Al Malik adalah orang-orang yang akalnya lemah seperti anak kecil padahal apa yang Allah berikan bagi mereka yang dekat denganNya bukanlah perkara yang semu.
Bagi mereka yang dekat dengan Al Malik tidak akan ada rasa takut terhadap hal-hal duniawi dan tidak bersedih hati, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al Qur-an surat Yunus ayat 62 berbunyi:
اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ
"Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih."
Para Aulia adalah orang-orang yang dekat bahkan sangat dekat dengan Allah, mereka tidak kuatir terhadap dunia yang akan meninggalkan mereka atau mereka yang akan meninggalkannya karena ajal, karena apa yang Allah janjikan itu jauh lebih berharga daripada perkara duniawi.
Fadhilah Mengenal Al Malik
- Dia akan berusaha mendekatkan dirinya kepada Allah dan tidak tergiur oleh iming-iming duniawi seperti jabatan, kekayaan, kekuasaan dan lain-lain, yang menjauhkan dia dengan Allah, karena dia sudah mengenal kepada raja yang sebenar-benarnya raja yaitu Allah.
- Dia selalu memprioritaskan melaksanakan ta'at daripada meninggalkannya apalagi berbuat maksiat.
- Allah menganugerahkan dia bisa bermukasyafah dengan pendengarannya, penglihatannya, hati, fikiran, lisan, tangan dan langkah kakinya.
- Sangat tipis dikabulkannya do'a bagi dia, bahkan tidak terhalang oleh sesuatu yang menghalangi dia dari dikabulkannya do'a.
- Allah memberi perlindungan/pertolongan bagi dia (wali Allah).
Sebagaimana disebutkan di dalam hadits qudsi yang disampaikan oleh Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam, Allah berfirman:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ (رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ)
"Tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang telah Aku wajibkan baginya. Senantiasa hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang dia gunakan untuk memegang dan Aku menjadi kakinya yang dia gunakan untuk melangkah. Jika dia meminta kepadaKu pasti Aku memberinya dan jika dia meminta perlindungan kepadaKu pasti Aku akan melindunginya." (HR. Al Bukhari)
Allah mencintai hamba-hambaNya yang menunaikan kefardhuan-kefardhuan yang Allah wajibkan, kemudian memperbanyak amalan yang sunah, sehingga Allah mencintai hambaNya itu.
Dari hadits ini kita harus cermat, ternyata yang dicintai Allah adalah melaksanakan amalan yang paling utama yaitu yang sifatnya wajib, barulah kemudian melaksanakan kesunahan-kesunahan.
Jangan kita mengabaikan perkara yang wajib demi mengejar perkara yang hukumnya sunah. Jangan kita menyelisihi perkara yang utama, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Minahus Saniyah, bahwa perkara yang harus ditaubati salah satunya yaitu mentaubati perkara yang menyelisihi perkara yang utama.
Kemudian ketika seseorang sudah dicintai Allah, maka atas kehendak Allah orang tersebut bisa saja bermukasyafah dan Allah menjadikan dia waliNya. Atas izin Allah orang tersebut memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan orang.
Berimannya kita terhadap Al Malik tentu harus disertai amal seperti melaksanakan ta'at, mentafakuri Maha Merajainya Allah dan mengaplikasikan hasil tafakur kita dalam keseharian kita (muroqobah), sehingga timbul rasa bukan sekedar mengaku-ngaku. Memang tidak mudah, namun bersikap roja' kepada Allah itu harus.
Penutup
Ala kuli hal dari apa yang disampaikan oleh ulama diatas tentang makna Al Malik yang merupakan bagian dari nama Allah, memiliki pesan agar kita tidak menjauhi Allah yang Maha Merajai.
Memperingatkan kepada kita bahwa Allah lah pemilik dari segala sesuatu, maka hanya kepadaNyalah kita mendekatkan diri dan memohon segala sesuatu dengan harapan semoga apa yang kita kerjakan mendapat ridhoNya, sehingga kita termasuk orang-orang yang dicintai Allah. Amiin...

Belum ada Komentar untuk "Makna Al Malik dan Fadhilah Mengenal Maha Merajainya Allah"
Posting Komentar