Munajat Seorang Pendosa yang Tobat Di Akhir Hayatnya
Munajat adalah dialog antara seorang hamba dengan Allah yang berisi pengharapan dan permohonan dengan bahasa sindiran, tidak seperti do'a yang berisi permohonan langsung kepada Allah, tapi munajat sepertihalnya kita curhat.
Dialog kita dengan Allah di dalam bermunajat bukan berarti Allah menjawab langsung curhatan kita karena kalam Allah tidak seperti makhluq, bukan suara maupun aksara, namun dengan bermunajat kita bisa lebih dekat dengan Allah dan sangat dianjurkan di dalam Islam.
Berikut ini adalah contoh munajat yang saya ambil dari sebuah hikayat yang tertulis di dalam kitab Al Mawaidhz Al Ushfuriyah, yang menceritakan detik-detik terakhir seorang pendosa meminta kemurahan dan kasih sayang Allah untuk mengampuni dosa-dosaNya.
Apakah Allah mengampuni dosa-dosanya orang tersebut? Berikut ini kisahnya, semoga bisa jadi i'tibar untuk kita dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.
Kisah Seorang Pendosa yang Tobat di Akhir Hayatnya
Orang yang dianggap sampah masyarakat ini sebenarnya adalah termasuk beriman bukan golongan orang kafir, maka ketika seseorang beriman tapi enggan melaksanakan ibadah maka dia disebut fasik karena melakukan dosa padahal dia mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang wajib disembah dan tahu hukum syari'at.
Pada suatu hari orang fasik yang banyak melakukan dosa ini wafat, namun karena semasa hidupnya banyak melakukan kesalahan terhadap masyarakat dan gemar makaiat, orang fasik ini meninggal tanpa disholatkan jenazahnya oleh masyarakat, bahkan jenazahnya dibuang diantara tumpukan sampah.
Seperti yang kita ketahui bahwa mensholati jenazah dan menguburnya itu fardhu kifayah maka tidak dibenarkan jika atas dasar akhlaq seorang mu'min yang tidak baik semasa hidupnya dia dibiarkan begitu saja tanpa disolatkan, maka yang berdosalah mereka yang tidak mensholatkan jenazah seorang mu'min.
Allah Maha Penyayang (Ar Rahim), kemudian Dia menyampaikan wahyu kepada nabi Musa agar mendatangi sebuah tempat untuk mensholatkan jenazah orang yang dianggap pendosa tadi, maka pergilah nabi Musa ke kampung itu sesuai perintah Allah.
Sesampainya nabi Musa di kampung yang beliau tuju, kemudian beliau bertanya kepada masyarakat setempat, anehnya tidak ada satu orangpun yang mau menunjukan lokasi jenazah yang dituju oleh nabi Musa, bahkan mereka malah menjawab tidak kenal.
Namun ada seorang warga yang menjawab dengan berkata, "Apakah engkau tidak salah menanyakan dan mencari-cari orang tersebut, wahai Nabiyullah?"
Nabi Musa berkata, "Apakah ada yang salah dengan peryanyaanku, lalu apa yang sebenarnya terjadi sehingga kalian sepertinya enggan menceritakan orang tersebut?"
Kemudian diceritakanlah keburukan-keburukan orang itu semasa hidupnya, sehingga membuat nabi Musa bingung atas perintah Allah agar beliau mensholatkan jenazah orang itu, bahkan Allah menyebut dia waliNya.
Maka kemudian nabi Musa bermunajat. "Wahai Tuhanku, Engkau telah memerintahkan aku untuk mensholati dan menguburnya, tapi para penduduk telah memberi kesaksian buruk terhadapnya, maka Engkau lebih mengetahui daripada mereka atas kebaikan dan keburukannya."
Kemudian Allah berfirman. "Wahai Musa, benar apa yang telah diceritakan oleh penduduk atas keburukan perilakunya, tapi dia telah memohon pertolongan kepadaKu dengan tiga perkara saat menjelang kematiannya. Jikalau semua pendosa meminta kepadaKu dengan tiga perkara tersebut, niscaya Aku akan memberikannya, sedangkan dia hanya meminta seorang diri, dan Aku adalah Dzat yang Maha Penyayang dari orang-orang yang penyayang"
Nabi Musa bertanya, "Wahai Tuhanku, apa tiga perkara tersebut?"
Allah berfirman yang mana di dalam firmanNya Allah menceritakan bahwa sebelum orang itu meninggal dia bermunajat kepadaNya yang isinya adalah sebagai berikut:
"Wahai TuhanKu, Engkau mengetahui tentangku, sungguh aku telah melakukan makaiat. Namun sesungguhnya di dalam hatiku ini benci melakukannya."
"Walau demikian, Engkau mengetahui bahwa di dalam diriku ada tiga kebaikan."
"Aku melakukan maksiat, sedang seperti yang Engkau ketahui bahwa hatiku membencinya. Semua itu dikarenakan hawa nafsu, teman yang buruk dan iblis. Tiga perkara ini yang membuatku senang melakukan maksiat"
"Wahai Tuhanku, sungguh engkau mengetahui apa yang telah aku ucapkan, maka ampunilah dosaku."
Nah, itu tadi munajat yang pertama dan sisi baik yang pertama dari seorang pendosa tadi, kemudian dia melanjutkan munajatnya:
"Wahai Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui dan memang benar aku berbuat makasiat, dan tempatku adalah bersama orang-orang fasik. Namun aku bergaul dengan orang-orang shaleh dan aku lebih menyukai bergaul bersama mereka daripada dengan orang-orang yang fasik."
Itulah tadi munajat yang kedua yang menunjukan sisi baik seorang pendosa tadi, kemudian dia melanjutkan munajatnya:
"Wahai Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa aku lebih senang ketika bergaul dengan orang-orang shaleh daripada orang yang fasik, sehingga jika aku menerima undangan dari dua orang tadi, aku lebih mendahulukan undangannya orang shaleh daripada orang-orang pendusta (fasik)."
"Wahai Tuhanku, maafkanlah atas segala dosaku, karena jika Engkau memaafkan dan mengampuni dosa-dosaku, maka para kekasih (auliya) dan para nabiMu akan ikut senang. Sedangkan setan musuhku dan musuhMu akan sedih karenanya."
"Akan tetapi jika Engkau menyiksaku, maka setan bersama kawan-kawannya akan senang, sedangkan para kekasih dan para NabiMu akan sedih."
"Sesungguhnya aku mengetahui, bahwa kegembiraan para kekasih dan para NabiMu lebih engkau cintai daripada kegembiraan setan dan sekutunya, maka ampunilah dosaku."
"Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui atas apa yang telah aku ucapkan, maka ampunilah dosaku."
Kemudian Allah menambahkan firmanNya kepada nabi Musa:
"Wahai Musa, Aku mengasihani dan mengampuninya karena aku adalah Dzat Yang Maha Pemurah, Maha Penyayang bagi orang yang mengakui dosa-dosanya dihadapanku, dan orang ini telah mengakui dosa-dosanya, maka aku mengampuninya."
Kemudian nabi Musa mengurus jenazah orang tersebut, mensholati dan menguburnya sesuai perintah Allah.
Kesimpulan
Sebagai mu'min kita harus selalu berprasangka baik dan tinggi harapan kepada Allah semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, karena dengan diampuninya dosa adalah kunci kebahagian bagi tiap-tiap hamba, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Allah adalah Ar Rahman dan Ar Rahim yang sangat bisa mengampuni seorang hamba dengan amal sedikit karena yang Allah lihat bukan besar atau kecilnya amal tapi qolbu hambaNya.
Penutup
Semoga kisah tadi bisa memotivasi agar kita lebih dekat dengan Allah dan tidak pesimis dengan ampunan Allah meski pun dosa-dosa kita teramat banyak dan besar, dan jangan menggampangkan tobat dengan alasan Maha Pema'af, Maha Pengampun dan Maha Pemurah dan Penyayangnya Allah.
Kita tidak pernah tahu apakah ketika kita meninggal kita sempat bertobat, ataukah dalam keaadaan su'ul khotimah?
Semoga bermanfaat.
.png)
Belum ada Komentar untuk "Munajat Seorang Pendosa yang Tobat Di Akhir Hayatnya"
Posting Komentar