Menata Hati dan Introspeksi
Segala Puji hanya milik Allah yang telah menganugerahkan manusia akal dan hati yang diisi oleh iman, yang dengan imanlah manusia menjadi makhluq yang dimuliakan, bahkan makhluq yang paling mulia dengan predikat ahli ilmu, ahli ibadah dan ahli iman.
Ada banyak hadits dari Rasulullah yang menyampaikan tentang pentingnya menata hati, seperti yang mahsyur di kalangan santri adalah kitab Minahus Saniyah atau Wasiyatul Musthafa, berisikan wasiyat dari Rasulullah kepada sayidina Ali karamallahu wajhah yang bermuatan tashauf.
Apa yang saya sampaikan di artikel kali ini bisa dibilang curahan hati, muhasabah atau keresahan-keresahan yang saya rasakan sebagai manusia awam yang takut bila amal yang sedikit ini hangus oleh penyakit-penyakit yang bersarang di hati, karena manusia tak luput dari salah dan dosa.
Isi Hati
Hati adalah tempat dimana niat dan itikad berbisik. Lembut, namun memicu tingkah dan perilaku yang bisa saja di luar batas karena ditunggangi oleh nafsu.
Ternyata hati adalah muara berkumpulnya semua rahasia, yang oleh Allah karuniakan atas tubuh manusia, yang menjadikannya makhluq yang paling mulia diantara makhluq yang lain.
Isi hati bercampur penyakit yang meresahkan dan mencelakakan, yang sulit diraba, bahkan terkadang ada juga orang yang mati rasa seakan tidak punya hati.
Dalamnya samudera masih bisa diselami, tapi hati begitu rapih tertutup tabir yang menghalangi pandangan mata, bahkan malaikat sekalipun tak mampu menyelami isi hati manusia.
Hanyalah Engkau Tuhanku satu-satunya yang Maha Menggenggam (Kuasa) dan membolak balikan isi hati manusia, Maha Mengetahui bahkan teliti dan mendzhohirkannya.
Hasrat Hati
Hasrat bagaikan nyawa bagi hati, yang dengannya akal mendapatkan fungsinya untuk bisa mendapati apa yang tidak bisa didapat oleh fungsi indrawi.
Dan ni'mat yang paling besar dari ikhtiar akal yaitu mengenal Allah.
Ternyata hasrat yang disertai ikhtiar akal menghasilkan pemahaman, buah dari menelaah dan introspeksi diri.
Hati yang tanpa hasrat bagaikan tubuh yang mati, tapi hasrat tanpa dipilah oleh akal bisa jadi petaka karena celaka dan kecewa. Hanya yang akalnya sakit yang tidak peduli dengan itu semua.
Hati yang Terluka dan Kecewa
Ternyata hati begitu ringkih seperti ranting yang kering, mudah patah diinjak oleh perilaku munafik dan licik.
Ketika hati terluka, airmata dan amarah serasa murah, kata-kata bijak seperti tak pantas terucap karena tergantikan oleh serapah, tak ada tempat untuk keikhlasan tenang bersemayam.
Salah kaprah, menganggap manusia sebagai malaikat tak bersayap dan kepadanya berharap. Tapi sepertinya hati seakan tak pernah jera, terkecoh dan kembali kecewa, lagi-lagi karena kuatnya desakan hasrat.
Hati yang Mati
Ternyata airmata kesedihan dan penyesalan adalah bukti lembutnya hati, tapi mata yang sulit meneteskan airmata adalah ciri kerasnya hati yang bisa saja mati.
Dan yang paling berbahaya adalah hati yang tak bisa ditembus oleh nasehat.
Hati yang mati itu tanpa empati. Sepilu apapun tragedi atau sebaik apapun perlakuan tidak akan membuatnya bergeming, malah acuh atau bahkan bengis tanpa belas kasih.
Hati yang mati tidak butuh kata-kata seindah mutiara, seperti kantung yang atasnya diikat kuat, yang tidak ada sesuatupun yang bisa masuk kecuali sesuatu yang sudah membusuk karena tertutup rapat.
Ketika Pemilik hati manusia (Allah) menutup rapat hati seseorang dari petunjuk dan kebaikan adalah musibah yang paling mengerikan.
Orang yang hatinya mati dan tertutup rapat tidak akan berkawan dengan manusia apalagi menganggap saudara, ia lebih senang berkawan dengan iblis yang dermawan, padahal menipu, tapi malah dijadikannya Tuhan.
Hati yang mati alergi dengan bahasa kasih sayang yang bersumber dari Yang Maha Penyayang (Ar Rahim), sehingga kebaikan yang didapatkannya dari Yang Maha Pemurah (Ar Rahman) baginya sama dengan binatang yang hanya mendapat ni'mat dhzohir saja.
Selalu berpura-pura menipu diri sendiri dengan menunjukan kesuksesannya membahagiakan diri sendiri, padahal dirinya menderita tanpa ketenangan batin.
Ternyata rasa aman itu datang dari Yang Maha Pemberi Rasa Aman (Al Mukmin) dan Pemberi Kesejahteraan (As Salam), namun bagi yang hatinya mati dan ditutup oleh-Nya akan selalu gelisah dan tidak pernah ada cukupnya.
Nutrisi Bagi Hati
Ternyata hati berisi rahasia dan butuh nutrisi agar tidak mati. Maka, agar hati selalu sehat yaitu dengan selalu mengingat kepada yang menganugerahkan hati yaitu Allah, yang bagiNya terpampang semua perkara yang batin termasuk isi hati.
Dia (Allah) yang memberikan sedikit pengetahuan kepada manusia tentang rahasia yang tersembunyi di dalam hati dan memberikan jalan untuk memberikan nutrisi bagi hati agar sisi manusiawi pada manusia tidak serupa dengan binatang.
Hati butuh asupan nutrisi agar selalu sehat yaitu dengan tidak kikir dalam berdzikir, dengan disertai tafakur sehingga timbul rasa syukur, introspeksi dan mengambil i'tibar dari sebuah tragedi dan musibah.
Rahasia Hati
Kebaikan Allah terhadap manusia yaitu menutup aib hambaNya, termasuk kebusukan hati manusia tidak Allah dhzohirkan.
Ternyata Allah tidak dhzolim. Dialah Yang Maha Menggenggam (kuasa) atas hati manusia dan memberikan kepada manusia rasa aman.
Kebusukan yang tersembunyi di dalam hati bagai virus yang merusak dan menjalar ke semua sistem, menghanguskan amal.
Hati berisi niat dan itikad yang bisa berbuah ni'mat dan penyakit, yang tidak tertukar keduanya dan tidak bisa dipungkiri.
Ternyata di dalam hati manusia ada rahasia yang ditunggangi oleh nafsu amarah, lawamah dan mulhimah, yang menenggelamkan baiknya nafsu mutmainah, rodhiyah, mardhiyah dan kamilah. yang dengan rahasia itu Allah memuliakan manusia.
Penutup
Adalah mereka orang-orang beruntung, yang mendapatkan rahmat yang banyak dari Allah, yang mengetahui rahasia yang sangat halus dalam qolbu dan tubuh manusia, mereka yang selalu mengharap ridhoNya dalam melaksanakan ta'at dan selalu mengingat Allah dalam keadaan apapun.
Mereka yang mendapati hikmah dari apa yang Allah ciptakan kemudian bersyukur dan berdo'a, "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau, maka lindungi kami dari siksa neraka."
Sedangkan diri ini adalah orang yang kuatir merugi dengan amal yang sedikit dan acapkali lalai melaksanakan ta'at. Seperti pribahasa Sunda yang mengatakan "Nété semplék nincak semplak." Diri ini tempatnya salah dan dosa.
Namun dengan pengharapan yang tinggi, semoga Allah memberikan ridhoNya atas amal yang sedikit ini dan senantiasa memberikan hidayahNya, dan Taufik agar bisa istiqomah.
Wallahu a'lam bishawab...
